Perkembangan teknologi telah membawa kita ke era digital. Data, transaksi keuangan, musik, sampai buku pun sudah terdigitalisasi. Apakah membaca buku digital adalah sesuatu yang buruk? Di satu sisi, kita dapat menghemat kertas dan ruang karena tidak lagi menggunakan fisik buku. Di sisi lain, pakar menyarankan untuk menghindari buku digital karena paparan sinar biru dari layar gadget dapat merusak kesehatan mata.
Anyway, saya masih menyukai interaksi dengan buku konvensional, melalui bau kertasnya dan suara gesekan lembar-lembarnya. Untuk anak-anak pun saya masih membelikan buku konvensional sampai rak bukunya penuh. Sambil membaca atau dibacakan, anak-anak terstimulasi motorik halusnya melalui gerakan membuka lembaran buku dan rabaan permukaan sampul dan halaman kertasnya. Tetapi saya tidak memungkiri bahwa di masa depan nanti mungkin posisi buku konvensional akan terganti sepenuhnya dengan buku digital. Teknologi berubah, manusia pun beradaptasi. Mungkin saja nanti tubuh manusia akan ikut berevolusi karena adaptasinya menghadapi layar gawai 24/7.
Apapun bentuknya, saya hanya ingin anak-anak saya memiliki kemampuan literasi yang baik. Kakak yang dominan auditori, di usia SD ini masih lebih suka read aloud dengan Mamanya. Kadang (iya kadang, gak selalu) setelah membaca saya "mengetes" pemahaman Kakak akan buku yang dibacanya melalui pertanyaan 5W1H. Adek, yang belum bisa membaca, masih suka dibacakan buku yang bergambar dan ada aktivitasnya. Sebagai anak-anak perempuan, buku-buku kesukaan mereka tidak jauh-jauh dari princess 😀. Tetapi saya baru amati akhir-akhir ini Kakak cukup antusias dengan buku-buku tentang hewan.
Bagaimana dengan saya sendiri? Kalau untuk menghadapi tantangan 10 hari ini, saya mengaku kalah. Waktu untuk membaca buku masih kalah dengan membaca HP 😰😰😰. Tapi untuk jangka panjang, saya tidak boleh kalah lagi dong. Bagaimana saya bisa menarik minat anak-anak untuk membaca jika mereka melihat Mamanya sendiri lebih sering pegang HP daripada buku?
Dengan berakhirnya game level 5 ini, bukan berarti tantangan saya berakhir. Di tengah-tengah gempuran Disney junior, Youtube, dan Netflix ini, tantangan orang tua jaman sekarang lebih besar untuk menjaga minat baca anak-anak. Semoga pohon yang tertempel di pintu kamar anak-anak ini akan bertambah rimbun.
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Bunda Sayang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah Bunda Sayang. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 Agustus 2019
Sabtu, 17 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 10
Dirgahayu Republik Indonesia!
Tema HUT Kemerdekaan RI ke-74 ini adalah SDM Unggul Indonesia Maju. Dalam rangka mencetak SDM unggul, mari kita ajak anak-anak kita (dan diri kita sendiri) untuk membaca. Sekalipun buku-buku yang dibaca hari ini gak nyambung dengan hari kemerdekaan sih 😅.
Hari ini buku-buku yang dipilih Adek masih mengulang dari hari-hari sebelumnya. Ada Seri Pull Push Slide yang judulnya Busy Garden dan Wiffy Wilson tentang serigala yang tidak mau sekolah. Setelah 3 pekan mogok sekolah, Jumat kemarin akhirnya Adek mau sekolah lho karena ada lomba tujuhbelasan. Membaca Wiffy Wilson tentang asiknya sekolah karena banyak teman-teman dan kegiatan bermain semoga memotivasi Adek untuk mau sekolah lagi hari Senin nanti.
Ada satu buku yang baru dibaca lagi selama periode tantangan ini, yaitu Putri Alia dan Bola-Bola Coklat. Cocok nih, ceritanya tentang seorang putri yang tidak mau membagi bola-bola coklat dengan kakaknya dan tidak menggosok gigi sebelum tidur hingga keesokan paginya sang putri bangun dengan pipi bengkak. Sebagai anak pada usia egosentris, Adek kadang-kadang suka merebut dan tidak mau membagi makanan atau barangnya dengan Kakak. Ketika membacakan cerita ini, saya menyelipkan pesan personal kepada Adek, "Kalau punya makanan, Adek mau bagi-bagi ke Kakak ya. Kan Kakak juga baik suka bagi makanan ke Adek." Tadi sih dia ngangguk-ngangguk, semoga nanti pas punya makanan masih inget sama cerita Putri Alia 😃.
Tema HUT Kemerdekaan RI ke-74 ini adalah SDM Unggul Indonesia Maju. Dalam rangka mencetak SDM unggul, mari kita ajak anak-anak kita (dan diri kita sendiri) untuk membaca. Sekalipun buku-buku yang dibaca hari ini gak nyambung dengan hari kemerdekaan sih 😅.
Hari ini buku-buku yang dipilih Adek masih mengulang dari hari-hari sebelumnya. Ada Seri Pull Push Slide yang judulnya Busy Garden dan Wiffy Wilson tentang serigala yang tidak mau sekolah. Setelah 3 pekan mogok sekolah, Jumat kemarin akhirnya Adek mau sekolah lho karena ada lomba tujuhbelasan. Membaca Wiffy Wilson tentang asiknya sekolah karena banyak teman-teman dan kegiatan bermain semoga memotivasi Adek untuk mau sekolah lagi hari Senin nanti.
Ada satu buku yang baru dibaca lagi selama periode tantangan ini, yaitu Putri Alia dan Bola-Bola Coklat. Cocok nih, ceritanya tentang seorang putri yang tidak mau membagi bola-bola coklat dengan kakaknya dan tidak menggosok gigi sebelum tidur hingga keesokan paginya sang putri bangun dengan pipi bengkak. Sebagai anak pada usia egosentris, Adek kadang-kadang suka merebut dan tidak mau membagi makanan atau barangnya dengan Kakak. Ketika membacakan cerita ini, saya menyelipkan pesan personal kepada Adek, "Kalau punya makanan, Adek mau bagi-bagi ke Kakak ya. Kan Kakak juga baik suka bagi makanan ke Adek." Tadi sih dia ngangguk-ngangguk, semoga nanti pas punya makanan masih inget sama cerita Putri Alia 😃.
Jumat, 16 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 9
Senangnya hari ini sudah di rumah lagi. Sebelum tidur, saya sempat membacakan Adek satu buku, masih dari seri Push Pull Slide yang judulnya "Busy Swimming". Untuk bocah yang hobi belajar berenang, buku ini relatable banget. Lihat gambar seorang anak yang pakai ban lengan, saya mengingatkan Adek kalau dulu pun dia memakai itu. Dengan belajar berenang, sekarang bisa "upgrade" pakai swimming board dan lepas ban. Kalau terus belajar, nanti bisa lepas board seperti kakak-kakak di buku ini. Selesai baca, dia jadi terinspirasi untuk request berenang besok pagi 😁.
Kamis, 15 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 8
Kakak hari ini membaca buku di perpustakaan sekolah yang berjudul "Keluarga Nisa Berlibur". Ceritanya tentang Nisa dan kedua orang tuanya yang berlibur ke rumah nenek di Bandung. Nisa senang sekali di rumah nenek karena dibelikan baju baru. Mirip dengan pengalaman Kakak katanya, karena kami juga memiliki nenek di Bandung dan suka membelikan baju 😁.
Saya masih meneruskan membaca buku Atomic Habits, bab tentang melekatkan kebiasaan baik baru dengan kebiasaan lama. Misalnya kita terbiasa membuka HP ketika bangun tidur lalu kita ingin menanamkan kebiasaan baru beryoga ketika bangun tidur. Katakan kepada diri kita "saya akan membuka HP setelah beryoga". Simpel sih ya, tinggal mulai prakteknya 😁.
Saya masih meneruskan membaca buku Atomic Habits, bab tentang melekatkan kebiasaan baik baru dengan kebiasaan lama. Misalnya kita terbiasa membuka HP ketika bangun tidur lalu kita ingin menanamkan kebiasaan baru beryoga ketika bangun tidur. Katakan kepada diri kita "saya akan membuka HP setelah beryoga". Simpel sih ya, tinggal mulai prakteknya 😁.
Rabu, 14 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 7

Lagi-lagi di tengah-tengah periode tantangan saya harus dinas luar kota meninggalkan anak-anak 😞. Sebelum pergi, saya sudah berpesan agar Kakak menceritakan buku yang dia dan Adek baca. Tapi laporan belum juga masuk 😅, ya sudah giliran Mamanya saja yang setor di hari ke-7. Kebetulan buku ini sudah lama dibaca dalam rangka tugas kantor, tetapi sangat relevan dengan kehidupan generasi yang hidup di masa sekarang. "The Fourth Industrial Revolution" menceritakan fenomena revolusi industri keempat yang dipicu oleh teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan, data raksasa, internet of things, dan robotik. Teknologi ini tidak hanya merevolusi cara kerja industri, tetapi juga mengubah model bisnis di sektor jasa dan finansial, mengubah komposisi tenaga kerja di masa depan, dan semakin menghilangkan batas negara secara virtual. Buku ini menggambarkan dunia macam apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita di masa depan dan menantang kita untuk memikirkan strategi mempersiapkan mereka.
Selasa, 13 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 6
Memasuki hari ke-6, tampaknya Adek memimpin posisi dengan jumlah buku paling banyak nih. Soalnya bukunya tipis-tipis 😄. Kali ini senang rasanya melihat lantai kamar yang dipenuhi buku-buku berserakan. Tandanya tadi anak-anak habis baca buku.
Hari ini Adek request dibacakan seri Pull-Push-Slide. Semacam buku yang bisa dimain-mainkan oleh anak-anak, jadi lebih menarik untuk mereka. Buku pertama adalah Busy Garden. Hewan-hewan apa saja yang ada di taman ya? Lalu Adek juga disuruh menghitung jumlah bunga berdasarkan warnanya. Sekalian belajar warna dan angka deh.
Buku kedua adalah Busy Farm. Kali ini kita melihat hewan-hewan dan aktivitas apa saja yang ada di peternakan. Adek sudah hapal semua nama hewan-hewan yang ada dibuku ini.
Senin, 12 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 5
Sedihnya hari ini karena pulang malam dari kantor, hanya sempat bertemu anak-anak sebentar saja. Selesai saya mandi, Kakak sudah tertidur sebelum saya sempat bertanya apakah sudah menyelesaikan membaca majalah Bobo hari ini. Adek pun sudah kucek-kucek mata tandanya ngantuk. Saya tanya apakah Adek mau dibacakan buku, dia mengangguk-ngangguk sambil memilih buku Sleeping Beauty. Seperti kakaknya, dia juga senang melihat-lihat gambar dan dibacakan buku-buku princess-ey seperti ini. Ceritanya saya ubah-ubah sedikit, misal di cerita aslinya para peri menyampaikan sihir baik untuk Aurora, saya bilang para peri mendoakan hal-hal baik 😅.
PR membaca buku untuk saya masih sama, mencicil Atomic Habits.
Minggu, 11 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 4
Hari ini Adek dibacakan dua buku: Angka-Angka dalam AlQuran dan Seri Allah Selalu Ada Untukku: Allah Ciptakan Tubuhku. Di buku pertama, Adek belajar berhitung dan tracing angka 1-10. Untuk menghubungkan cerita di balik angka-angka yang disebutkan dalam Al-Quran itu saya masih bingung bagaimana cara memberikan penjelasan yang dimengerti oleh Adek 😅. Sepertinya nanti harus balik lagi ke buku itu supaya pesannya sampai - bukan sekedar menghitung 1-10.
Buku kedua lebih mudah membacakannya karena selain banyak gambar yang bisa dia tebak maksudnya, juga relatable dengan bagian-bagian tubuh yang secara konkret dapat dia lihat dan pegang sendiri. Isi bukunya kurang lebih mengarahkan kita untuk memahami bahwa fungsi-fungsi tubuh yang kita miliki diciptakan oleh Allah, dan sebagai rasa syukur kita harus memanfaatkannya untuk beribadah kepada Allah dan melakukan hal-hal baik. Belum tahu sih Adek paham gak maksudnya, tetapi semoga cerita tadi bisa sebagai sounding untuk alam bawah sadarnya.
Kakak gimana? Hari ini lagi gak mood baca katanya. Setelah ketemuan dengan sepupunya dan naik sepeda dengan Abi, di rumah pengennya menggambar. Baiklah, kakak....
Kamis, 08 Agustus 2019
[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 1
Tantangan level 5 ini semakin menarik saja, membuat proyek membaca buku sekeluarga. Mengajak anak-anak membaca insya Allah tidak sulit. Buku sudah tersedia selemari penuh, minat membaca sudah terbangun walaupun gak kaya kutu butu amat. Tantangan besarnya mengajak Abinya membaca buku 😂. Sejak sebelum menikah saya sudah tahu kalau dia tidak terlalu suka membaca. Boro-boro novel, komik aja ngga suka 😁. Sekarang karena tuntutan pekerjaan dan lingkungan paling rutinnya membaca berita online dan press release. Tantangan lainnya, tentu saja memaksa diri saya sendiri menyelesaikan membaca 1 buku 😁. Dulu novel tebal bisa dilahap 1 hari, sekarang buku 400 halaman harus dicicil 5 halaman per hari, itu juga gak tiap hari 😅. Jadi senang juga sih ada tantangan ini. Selain mengingatkan saya untuk tetap rajin mengajak anak-anak membaca buku, juga memecut diri saya sendiri untuk meneruskan membaca buku-buku yang sudah tebal debunya *uhuk.
Salah satu tahapan dalam tantangan ini yang exciting tentu saja: membuat Pohon Literasi! Punya anak-anak perempuan yang hobi crafting tentu harus diberdayakan ya. Mama kasi lihat contoh pohon literasi dari Mak Yulita, komentar Kakak, "Itu mah bagus Mah, susah bikinnya!" Hihihihi,,, ya sudah Kakak membuat pohon sebisanya saja. Lalu niat diwarnain dengan teknik gradasi gitu karena di sekolah baru diajarin katanya.
Nah, ini buku-buku yang dibacakan untuk Adek di tantangan hari pertama. Buku-buku ini gak ada di Reading Tracker karena memang ini bukan buku-buku di rumah kita 😅. Pas kebetulan lagi survey kafe untuk kegiatannya Kejar Cantik Sehat, di kafe ini tersedia satu rak isi buku anak-anak. Total 5 buku deh yang minta dibacakan oleh Adek. Sebagai bayi tipe visual-kinestetik, buku yang paling disuka yang seri Buka-Tutup karena tangannya bisa ikut gerak-gerak 😀.
Kakak yang sudah bisa baca sendiri, memilih dua buku ini. Ini buka udah bolak-balik dibaca berkali-kali dan memang pilihannya sendiri ketika ada acara beli buku di Books Day di sekolahnya.
Alhamdulillah, pohon yang tadinya botak sudah mulai muncul daun-daunnya! Daun warna hijau muda menandai buku yang dibaca oleh Kakak, sedangkan daun warna merah menandai buku yang dibacakan untuk Adek.
Di Reading Trackers ini adalah daftar buku-buku yang rencananya akan dibaca dan dibacakan selama periode tantangan. Punya Mama hanya dua karena Mama realistis 😂. Sesuai buku yang lagi dibaca yaitu Atomic Habits, lebih penting membangun kebiasaan-kebiasaan kecil tapi konsisten. Karena saya baru bisa baca malam hari ketika anak-anak tidur, jadi cuma bisa baca beberapa halaman sebelum tidur. Kenapa gak bisa baca pas di perjalanan di kereta, misalnya? Karena megang buku sambil berdiri di kereta penuh itu susah, Mak! Abi masih dikasih tanda tanya dulu deh 😆.
Salah satu tahapan dalam tantangan ini yang exciting tentu saja: membuat Pohon Literasi! Punya anak-anak perempuan yang hobi crafting tentu harus diberdayakan ya. Mama kasi lihat contoh pohon literasi dari Mak Yulita, komentar Kakak, "Itu mah bagus Mah, susah bikinnya!" Hihihihi,,, ya sudah Kakak membuat pohon sebisanya saja. Lalu niat diwarnain dengan teknik gradasi gitu karena di sekolah baru diajarin katanya.
Nah, ini buku-buku yang dibacakan untuk Adek di tantangan hari pertama. Buku-buku ini gak ada di Reading Tracker karena memang ini bukan buku-buku di rumah kita 😅. Pas kebetulan lagi survey kafe untuk kegiatannya Kejar Cantik Sehat, di kafe ini tersedia satu rak isi buku anak-anak. Total 5 buku deh yang minta dibacakan oleh Adek. Sebagai bayi tipe visual-kinestetik, buku yang paling disuka yang seri Buka-Tutup karena tangannya bisa ikut gerak-gerak 😀.
Kakak yang sudah bisa baca sendiri, memilih dua buku ini. Ini buka udah bolak-balik dibaca berkali-kali dan memang pilihannya sendiri ketika ada acara beli buku di Books Day di sekolahnya.
Alhamdulillah, pohon yang tadinya botak sudah mulai muncul daun-daunnya! Daun warna hijau muda menandai buku yang dibaca oleh Kakak, sedangkan daun warna merah menandai buku yang dibacakan untuk Adek.
Selasa, 02 Juli 2019
[Bunsay-Aliran Rasa] Family Project as My Personal Project
Game Level 3 - Family Project - Aliran Rasa
Dalam melakukan Tantangan 10 Hari di Level 3 ini lumayan banyak tantangannya. Setelah dua level sebelumnya sukses menyetor tugas tanpa rapel dan skip bahkan lebih dari 10 hari berturut-turut, level ini buyar deh. Diawali dengan harus masuk kantor ketika ART belum kembali, jadwal rutin saya jadi kacau-balau. Bolak-balik rumah-kantor-rumah ortu untuk menitipkan anak lumayan membuat energi saya terkuras, jadi jadwal setor tugas yang biasa saya lakukan malam hari jadi terlewat karena sering ketiduran. Akhirnya saya menetapkan target "yang penting lulus level 3", yang penting setor 10 tugas walaupun penuh rapelan 😪.
Tepat di hari terakhir periode pengumpulan tugas, saya mengumpulkan tugas hari ke-10. Alhamdulillah target lulus level 3 tercapai, tapi tetap saja tidak puas rasanya karena kurang all out dalam mengerjakan project ini.
Setelah membaca Review Game Level 3 ini pun saya tertohok di bagian bahwa proyek peningkatan kecerdasan anak ini juga merupakan proyek peningkatan kecerdasan diri saya sendiri. Kalau menurut review tersebut, saya termasuk tipe quitter karena tidak berhasil mengalahkan tantangan manajemen waktu mengumpulkan tugas 10 hari berturut-turut. Saya kurang setuju sih, bagaimanapun saya masih memberikan effort untuk lulus Level 3. Walaupun bukan tugas yang sempurna, tapi setidaknya saya benar-benar mengerjakan 10 hari tantangan, bukan asal nulis saja.
Dalam melakukan Tantangan 10 Hari di Level 3 ini lumayan banyak tantangannya. Setelah dua level sebelumnya sukses menyetor tugas tanpa rapel dan skip bahkan lebih dari 10 hari berturut-turut, level ini buyar deh. Diawali dengan harus masuk kantor ketika ART belum kembali, jadwal rutin saya jadi kacau-balau. Bolak-balik rumah-kantor-rumah ortu untuk menitipkan anak lumayan membuat energi saya terkuras, jadi jadwal setor tugas yang biasa saya lakukan malam hari jadi terlewat karena sering ketiduran. Akhirnya saya menetapkan target "yang penting lulus level 3", yang penting setor 10 tugas walaupun penuh rapelan 😪.
Tepat di hari terakhir periode pengumpulan tugas, saya mengumpulkan tugas hari ke-10. Alhamdulillah target lulus level 3 tercapai, tapi tetap saja tidak puas rasanya karena kurang all out dalam mengerjakan project ini.
Setelah membaca Review Game Level 3 ini pun saya tertohok di bagian bahwa proyek peningkatan kecerdasan anak ini juga merupakan proyek peningkatan kecerdasan diri saya sendiri. Kalau menurut review tersebut, saya termasuk tipe quitter karena tidak berhasil mengalahkan tantangan manajemen waktu mengumpulkan tugas 10 hari berturut-turut. Saya kurang setuju sih, bagaimanapun saya masih memberikan effort untuk lulus Level 3. Walaupun bukan tugas yang sempurna, tapi setidaknya saya benar-benar mengerjakan 10 hari tantangan, bukan asal nulis saja.
Sabtu, 29 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Cake-date with Mama
Game Level 3 - Family Project - Hari 9
Setelah les piano hari ini, saya mengajak Kakak untuk ngedate berdua aja di cakeshop dekat rumah. Kebetulan Adik lagi mau ditinggal di rumah dengan Abinya --dengan iming-iming makan eskrim 😆. Saya merasa udah jaranggg banget bisa pergi berdua sama Kakak, lebih sering pergi berdua sama Adik soalnya Kakak udah mau ditinggal di rumah. Kalau Adiknya pasti pengen ikut ke manapun Kakaknya pergi 😃.
Sejak Kakak menginjak usia 7 tahun setahun yang lalu, saya memang merasa si Kakak berubah lebih mandiri, dan tidak banyak bergantung lagi kepada saya. Sudah lebih memilih ditinggal di rumah atau bermain dengan teman-temannya daripada diajak jalan-jalan sama Mama dan Abinya (huhu...).
Misi saya mengajak playdate ini ingin menjaga kedekatan emosi dia dengan saya, supaya gak merasa tersisih gitu karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya (yang attachmentnya masih kuat banget ke Mamanya).
Terus ngedatenya ngapain? Ya cuma makan makanan yang kita suka dan ngobrol santai hehe... Yang penting Kakak happy dan menikmati kebersamaan berdua dengan Mamanya, karena saya pikir kecerdasan emosi seorang anak juga terbentuk melalui kedekatan dengan orang tuanya 😊.
Setelah les piano hari ini, saya mengajak Kakak untuk ngedate berdua aja di cakeshop dekat rumah. Kebetulan Adik lagi mau ditinggal di rumah dengan Abinya --dengan iming-iming makan eskrim 😆. Saya merasa udah jaranggg banget bisa pergi berdua sama Kakak, lebih sering pergi berdua sama Adik soalnya Kakak udah mau ditinggal di rumah. Kalau Adiknya pasti pengen ikut ke manapun Kakaknya pergi 😃.
Sejak Kakak menginjak usia 7 tahun setahun yang lalu, saya memang merasa si Kakak berubah lebih mandiri, dan tidak banyak bergantung lagi kepada saya. Sudah lebih memilih ditinggal di rumah atau bermain dengan teman-temannya daripada diajak jalan-jalan sama Mama dan Abinya (huhu...).
Misi saya mengajak playdate ini ingin menjaga kedekatan emosi dia dengan saya, supaya gak merasa tersisih gitu karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya (yang attachmentnya masih kuat banget ke Mamanya).
Terus ngedatenya ngapain? Ya cuma makan makanan yang kita suka dan ngobrol santai hehe... Yang penting Kakak happy dan menikmati kebersamaan berdua dengan Mamanya, karena saya pikir kecerdasan emosi seorang anak juga terbentuk melalui kedekatan dengan orang tuanya 😊.
[Bunsay-Family Project] Membuat Clay
Game Level 3 - Family Project - Hari 8
Nah ini clay yang sudah dibentuk oleh Kakak, sedang dijemur supaya kering dan keras.
Taraaa...sudah selesai membuat dan mewarnai claynya.
Qadarullah, salah satu clay yang diwarnai oleh Kakak terjatuh dan pecah 😥. Terlihat wajahnya kecewa, tapi dia cukup ikhlas. "Gak apa-apa, kan masih ada clay lain yang aku buat," katanya. "Nanti bisa dipasang lagi pakai lem tembak ga ya?" Hmmmm mari kita coba nanti ya, Kak.
Selain melatih kreativitas, tanpa direncanakan Kakak juga belajar mengelola emosinya ketika terjadi hal yang tidak diduga.
Sekalian mengisi liburan sekolah, saya mendaftarkan Kakak dan Adik ke Workshop Membuat Clay. Kegiatan ini selain melatih motorik halusnya Adik, juga menstimulasi kreativitas Kakak dan Adik.
Di meja sudah disediakan contoh bentuk-bentuk yang bisa dibuat dari clay, tapi tiap anak dibebaskan untuk membuat apa saja. Adik masih nurut-nurut aja sama Tante-tante pembimbingnya, hehe jadi dia membuat strawberry seperti contoh. Kalau Kakak, dia memutuskan untuk membuat kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya, jembatan, dan bentuk bola😁. Selain membentuk clay, mereka juga boleh mewarnainya.
Nah ini clay yang sudah dibentuk oleh Kakak, sedang dijemur supaya kering dan keras.
Taraaa...sudah selesai membuat dan mewarnai claynya.
Qadarullah, salah satu clay yang diwarnai oleh Kakak terjatuh dan pecah 😥. Terlihat wajahnya kecewa, tapi dia cukup ikhlas. "Gak apa-apa, kan masih ada clay lain yang aku buat," katanya. "Nanti bisa dipasang lagi pakai lem tembak ga ya?" Hmmmm mari kita coba nanti ya, Kak.
Selain melatih kreativitas, tanpa direncanakan Kakak juga belajar mengelola emosinya ketika terjadi hal yang tidak diduga.
Rabu, 26 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Penjumlahan
Game Level 3 - Family Project - Hari 7
Hari ini proyek peningkatan kecerdasannya kembali ke matematika. Sekalian refresh karena udah sebulan libur sekolah, saya memberikan "PR" worksheet penjumlahan untuk Kakak. Worksheet ini saya print dari salah satu web Montessori. Kalau lihat worksheetnya memang gampang banget ya. Kalau di Montessori, memang untuk belajar matematika itu ditekankan untuk memahami pola dulu. Kebetulan Kakak sudah paham konsep penjumlahan (bukan menghapal 1+1 = 2) jadi sudah bisa proceed ke worksheet.
Hari ini proyek peningkatan kecerdasannya kembali ke matematika. Sekalian refresh karena udah sebulan libur sekolah, saya memberikan "PR" worksheet penjumlahan untuk Kakak. Worksheet ini saya print dari salah satu web Montessori. Kalau lihat worksheetnya memang gampang banget ya. Kalau di Montessori, memang untuk belajar matematika itu ditekankan untuk memahami pola dulu. Kebetulan Kakak sudah paham konsep penjumlahan (bukan menghapal 1+1 = 2) jadi sudah bisa proceed ke worksheet.
Kalau penjumlahan begini udah cingcay buat Kakak, next pengurangan!
Senin, 24 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Berlatih Piano
Game Level 3 - Family Project - Hari 6
Salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan emosi adalah bermain piano. Bermain piano mengasah kemampuan otak kanan yang merupakan pusat kemampuan sosial, komunikasi, pengendalian emosi, dan kreativitas.
Memasuki bulan ketiga les piano di Yamaha, lagu-lagu yang dipelajari sudah mulai kompleks. Ritme tiap bar sudah berbeda, Kakak harus bisa membedakan not 1, 2, 3, sampai 4 ketukan. Belum lagi kombinasi ritme yang berbeda antara tangan kiri dan tangan kanan.
Ketika mulai mengalami kesulitan berlatih, Kakak mengeluh, "Susah banget, Ma."
Saya paham memang mempelajari lagu tersebut memang cukup menantang untuk levelnya.
"Iya memang susah karena Kakak belum bisa. Kalau susah, artinya Kakak harus latihan berkali-kali supaya bisa. Dulu sebelum mulai les piano Kakak gak bisa sama sekali kan? Tapi sekarang udah bisa main lagu Little Hans karena Kakak latihan terus."
Saya membantu Kakak berlatih dengan tangan kanan dulu sampai lancar, baru mulai belajar tangan kiri. Untung emaknya dulu pernah kursus electone jadi gak buta-buta amat sama not balok wkwkwkwk...
Setiap sesi latihan di rumah, saya instruksikan Kakak untuk mengulang-ulang bermain lagunya sampai 10 kali. Kebetulan lagunya pendek-pendek, jadi gak kerasa sih main 10 kali. Finally setelah 2 hari, mainnya mulai lancar.
"Alhamdulillah, Kakak jadi bisa kan karena latihan?"
Kakak senyum-senyum girang aja.
Latihan piano ini ternyata bukan hanya melatih kecerdasan emosional, tetapi juga adversity quotient. Tentang bagaimana ketika Kakak menghadapi kesulitan bermain lagu yang semakin menantang, apakah tinggalkan saja lagunya dan berhenti les piano, atau ambil tantangannya dengan bertatih-tatih membaca not demi not, mengulang-ngulang berhari-hari hingga dia menguasai lagunya tanpa membaca partitur lagi.
Salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan emosi adalah bermain piano. Bermain piano mengasah kemampuan otak kanan yang merupakan pusat kemampuan sosial, komunikasi, pengendalian emosi, dan kreativitas.
Memasuki bulan ketiga les piano di Yamaha, lagu-lagu yang dipelajari sudah mulai kompleks. Ritme tiap bar sudah berbeda, Kakak harus bisa membedakan not 1, 2, 3, sampai 4 ketukan. Belum lagi kombinasi ritme yang berbeda antara tangan kiri dan tangan kanan.
Ketika mulai mengalami kesulitan berlatih, Kakak mengeluh, "Susah banget, Ma."
Saya paham memang mempelajari lagu tersebut memang cukup menantang untuk levelnya.
"Iya memang susah karena Kakak belum bisa. Kalau susah, artinya Kakak harus latihan berkali-kali supaya bisa. Dulu sebelum mulai les piano Kakak gak bisa sama sekali kan? Tapi sekarang udah bisa main lagu Little Hans karena Kakak latihan terus."
Saya membantu Kakak berlatih dengan tangan kanan dulu sampai lancar, baru mulai belajar tangan kiri. Untung emaknya dulu pernah kursus electone jadi gak buta-buta amat sama not balok wkwkwkwk...
Setiap sesi latihan di rumah, saya instruksikan Kakak untuk mengulang-ulang bermain lagunya sampai 10 kali. Kebetulan lagunya pendek-pendek, jadi gak kerasa sih main 10 kali. Finally setelah 2 hari, mainnya mulai lancar.
"Alhamdulillah, Kakak jadi bisa kan karena latihan?"
Kakak senyum-senyum girang aja.
Latihan piano ini ternyata bukan hanya melatih kecerdasan emosional, tetapi juga adversity quotient. Tentang bagaimana ketika Kakak menghadapi kesulitan bermain lagu yang semakin menantang, apakah tinggalkan saja lagunya dan berhenti les piano, atau ambil tantangannya dengan bertatih-tatih membaca not demi not, mengulang-ngulang berhari-hari hingga dia menguasai lagunya tanpa membaca partitur lagi.
Selasa, 18 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Halal Bi Halal
Game Level 3-Family Project-Hari 3
Tadi siang, saya dan anak-anak berkesempatan makan siang di sebuah restoran. Kebetulan hari ini saya cuti dan lagi pengen jalan-jalan 😆. Sambil menunggu makanan kami datang, kakak melihat tulisan "halal" di papan nama restorannya, lalu dia nyeletuk, "Halal.... Mama tahu halal bi halal?".
Wkwkwk nyambung aja. Saya pikir pas nih buat bahas istilah "halal bi halal" yang selama ini penggunaannya salah kaprah di Indonesia.
"Kalau halal Kakak udah tau kan artinya, makanan yang boleh dimakan sama muslim. Kalau halal bi halal, itu sebenarnya gak ada artinya. Di Bahasa Arab gak ada istilah "halal bi halal". Yang betul itu "silaturahim". Halal bi halal biasanya sebutan buat acara silaturahim setelah Lebaran."
Kakak cuma manggut-manggut. Mungkin dia bingung kenapa Mama jadi ngasi kuliah hahaha... Mudah-mudahan infonya nyangkut jadi gak kaya Mamanya baru tau istilah "halal bi halal" itu salah pas udah tuwir gini 😓. Saya gak tau pengetahuan ini termasuk kecerdasan intelektual atau spriritual ya?
Tadi siang, saya dan anak-anak berkesempatan makan siang di sebuah restoran. Kebetulan hari ini saya cuti dan lagi pengen jalan-jalan 😆. Sambil menunggu makanan kami datang, kakak melihat tulisan "halal" di papan nama restorannya, lalu dia nyeletuk, "Halal.... Mama tahu halal bi halal?".
Wkwkwk nyambung aja. Saya pikir pas nih buat bahas istilah "halal bi halal" yang selama ini penggunaannya salah kaprah di Indonesia.
"Kalau halal Kakak udah tau kan artinya, makanan yang boleh dimakan sama muslim. Kalau halal bi halal, itu sebenarnya gak ada artinya. Di Bahasa Arab gak ada istilah "halal bi halal". Yang betul itu "silaturahim". Halal bi halal biasanya sebutan buat acara silaturahim setelah Lebaran."
Kakak cuma manggut-manggut. Mungkin dia bingung kenapa Mama jadi ngasi kuliah hahaha... Mudah-mudahan infonya nyangkut jadi gak kaya Mamanya baru tau istilah "halal bi halal" itu salah pas udah tuwir gini 😓. Saya gak tau pengetahuan ini termasuk kecerdasan intelektual atau spriritual ya?
[Bunsay-Family Project] Gerakan Sholat
Game Level 3 - Family Project - Hari 2
Sholat adalah tiang agama, oleh karena itu segala rukun sholat harus ditunaikan dengan baik sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Membiasakan anak untuk sholat tidak cukup, harus dibarengi juga dengan pembiasaan melakukan sholat yang benar, baik dari segi bacaan dan gerakannya. Berkaca dari pengalaman saya yang baru tahu cara sholat yang benar dari guru agama di sekolah, saya ingin anak-anak belajar sholat yang benar dari orang tuanya terlebih dahulu.
Pembiasaan Kakak untuk sholat 5 waktu sudah dilakukan, bacaan sholat pun sudah dilakukan. Hari itu, saya ingin "mengetes" gerakan sholat Kakak karena biasanya tertutup mukena jadi tidak terlihat jelas oleh saya.
Pertama, gerakan takbiratul ikhram. Telapak tangan menghadap ke depan, posisi di sebelah telinga.
Kedua, bagaimana posisi bersedekap. Tangan kiri di bawah tangan kanan, pergelangan tangan saling menempel, keduanya ditaruh di antara dada dan pusar.
Ketiga, posisi rukuk. Tangan ditaruh di kedua lutut, punggung dan kaki membentuk sudut 90 derajat.
Keempat, posisi sujud. Anggota badan yang menempel alas sholat adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki. Siku tidak boleh menempel lantai.
Kelima, posisi duduk di antara sujud dan tahiyat. Bagaimana perbedaan duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir.
Alhamdulillah gerakan-gerakannya hampir sempurna, hanya posisi sujud yang perlu dikoreksi.
Mempelajari gerakan sholat merupakan salah satu latihan kecerdasan spiritual, karena sekedar rutin melakukan ibadah saja tidak cukup. Melakukan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, itulah yang harus ditanamkan sejak kecil.
Sholat adalah tiang agama, oleh karena itu segala rukun sholat harus ditunaikan dengan baik sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Membiasakan anak untuk sholat tidak cukup, harus dibarengi juga dengan pembiasaan melakukan sholat yang benar, baik dari segi bacaan dan gerakannya. Berkaca dari pengalaman saya yang baru tahu cara sholat yang benar dari guru agama di sekolah, saya ingin anak-anak belajar sholat yang benar dari orang tuanya terlebih dahulu.
Pembiasaan Kakak untuk sholat 5 waktu sudah dilakukan, bacaan sholat pun sudah dilakukan. Hari itu, saya ingin "mengetes" gerakan sholat Kakak karena biasanya tertutup mukena jadi tidak terlihat jelas oleh saya.
Pertama, gerakan takbiratul ikhram. Telapak tangan menghadap ke depan, posisi di sebelah telinga.
Kedua, bagaimana posisi bersedekap. Tangan kiri di bawah tangan kanan, pergelangan tangan saling menempel, keduanya ditaruh di antara dada dan pusar.
Ketiga, posisi rukuk. Tangan ditaruh di kedua lutut, punggung dan kaki membentuk sudut 90 derajat.
Keempat, posisi sujud. Anggota badan yang menempel alas sholat adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki. Siku tidak boleh menempel lantai.
Kelima, posisi duduk di antara sujud dan tahiyat. Bagaimana perbedaan duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir.
Alhamdulillah gerakan-gerakannya hampir sempurna, hanya posisi sujud yang perlu dikoreksi.
Mempelajari gerakan sholat merupakan salah satu latihan kecerdasan spiritual, karena sekedar rutin melakukan ibadah saja tidak cukup. Melakukan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, itulah yang harus ditanamkan sejak kecil.
Kamis, 13 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Berhitung
Game Level 3 - Family Project - Hari 1
Sesungguhnya di suasana post-Lebaran dengan support system yang belum lengkap (baca: ART masih mudik) membuat saya kurang fokus untuk memikirkan family project untuk misi peningkatam kecerdasan anak ini. Saya baru menentukan aja kalau partner Game Level 3 adalah si Kakak. Di usianya yang 8 tahun, banyak hal-hal menantang yamg bisa digali untuk bahan family poject. Tadinya pengen skip hari pertama karena hari ini pagi saya di kantor, sore sampai malam menemani anak-anak playdate dengan teman-temannya. Rasanya gak ada waktu untuk proyek-proyekan.
Tapi setelah baca motivasi dari Bu Fasil tercintakuh, saya mikir masa sih seharian penuh ga ada sama sekali aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan Kakak. Akhirnya kepilih salah satu aktivitas untuk meningkatkan IQ: menghitung uang! 😁
Tadi sore Kakak playdate ke Kidzania dengan teman-teman sekelasnya. Bagi yang belum tahu, di Kidzania anak-anak bisa "pura-pura" mencoba berbagai profesi kemudian mendapatkan upah dalam mata uang Kidzos. Walaupun uang pura-pura, anak-anak mah tetep aja seneng berasa dapet uang beneran.
Setelah bekerja di beberapa tempat, Kakak menghitung penghasilannya. Nominalnya ada yang 5, 10, dan 20. Awalnya pusing juga dia menghitung total Kidzos yang dia dapat.
Saya suruh pisahkan dulu uangnya sesuai nominalnya masing-masing.
Kakak menghitung lembaran uangnya sambil bergumam, "Yang 5 ada 3 jadi 5, 10, 15. Yang 10 ada 6, jadi 10, 20, 30, 40, 50, 60. Yang 20 ada 4 berarti 20, 40, 60, 80."
Tanpa sadar dia sudah melakukan perkalian ya sebenarnya. Instead of ngapalin 5x3 =15, 10x6 =60, dan 20x4 = 80, Kakak menyebut kelipatannya, yang merupakan konsep dasar perkalian.
"Jadi 15, 60, 80 berapa jumlahnya Ma?" Kalau jumlah puluhan harus ditulis di kertas sementara saat itu kami sedang tidak membawa alat tulis.
"15+60+80=155," jawab saya membantunya.
"Asyiiiik uangku udah 155!"
Alhamdulillah ya Kak, dapet gaji dan bisa ngitung juga gajinya 😬.
Sesungguhnya di suasana post-Lebaran dengan support system yang belum lengkap (baca: ART masih mudik) membuat saya kurang fokus untuk memikirkan family project untuk misi peningkatam kecerdasan anak ini. Saya baru menentukan aja kalau partner Game Level 3 adalah si Kakak. Di usianya yang 8 tahun, banyak hal-hal menantang yamg bisa digali untuk bahan family poject. Tadinya pengen skip hari pertama karena hari ini pagi saya di kantor, sore sampai malam menemani anak-anak playdate dengan teman-temannya. Rasanya gak ada waktu untuk proyek-proyekan.
Tapi setelah baca motivasi dari Bu Fasil tercintakuh, saya mikir masa sih seharian penuh ga ada sama sekali aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan Kakak. Akhirnya kepilih salah satu aktivitas untuk meningkatkan IQ: menghitung uang! 😁
Tadi sore Kakak playdate ke Kidzania dengan teman-teman sekelasnya. Bagi yang belum tahu, di Kidzania anak-anak bisa "pura-pura" mencoba berbagai profesi kemudian mendapatkan upah dalam mata uang Kidzos. Walaupun uang pura-pura, anak-anak mah tetep aja seneng berasa dapet uang beneran.
Setelah bekerja di beberapa tempat, Kakak menghitung penghasilannya. Nominalnya ada yang 5, 10, dan 20. Awalnya pusing juga dia menghitung total Kidzos yang dia dapat.
Saya suruh pisahkan dulu uangnya sesuai nominalnya masing-masing.
Kakak menghitung lembaran uangnya sambil bergumam, "Yang 5 ada 3 jadi 5, 10, 15. Yang 10 ada 6, jadi 10, 20, 30, 40, 50, 60. Yang 20 ada 4 berarti 20, 40, 60, 80."
Tanpa sadar dia sudah melakukan perkalian ya sebenarnya. Instead of ngapalin 5x3 =15, 10x6 =60, dan 20x4 = 80, Kakak menyebut kelipatannya, yang merupakan konsep dasar perkalian.
"Jadi 15, 60, 80 berapa jumlahnya Ma?" Kalau jumlah puluhan harus ditulis di kertas sementara saat itu kami sedang tidak membawa alat tulis.
"15+60+80=155," jawab saya membantunya.
"Asyiiiik uangku udah 155!"
Alhamdulillah ya Kak, dapet gaji dan bisa ngitung juga gajinya 😬.
Jumat, 10 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (6)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 16
Masih edisi cuci alat makan karena anaknya lagi semangat-semangatnya turun ke tempat cuci 😬. Setelah cuci gelas, mangkok, sendok, garpu, cup eskrim, sekarang dia mau mencuci botol kemasan. Sama seperti cup eskrim, botol kemasan yang habis kami minum dicuci dan dikeringkan dulu untuk re-use atau dikumpulkan ke pemulung.
Barang baru yang dicuci, semangatnya beda lagi. Dengan serius, botol itu dibasuh oleh air berkali-kali sampai isinya benar-benar bening. Setelah selesai dibasuh, saya bilang agar botolnya dijemur saja di rak. Eh, dia malah minta sabun. Oh, botolnya mau disabuni dulu hihi... padahal saya sendiri kalau cuci botol hanya dengan air saja. Karena yang dia pahami standard of procedure mencuci itu harus pakai sabun, ya sudah biarkan botolnya disabuni biar tambah bersih. Fix deh, gak perlu cari infal untuk menggantikan si Mbak pas Lebaran nanti 😹.
Masih edisi cuci alat makan karena anaknya lagi semangat-semangatnya turun ke tempat cuci 😬. Setelah cuci gelas, mangkok, sendok, garpu, cup eskrim, sekarang dia mau mencuci botol kemasan. Sama seperti cup eskrim, botol kemasan yang habis kami minum dicuci dan dikeringkan dulu untuk re-use atau dikumpulkan ke pemulung.
Barang baru yang dicuci, semangatnya beda lagi. Dengan serius, botol itu dibasuh oleh air berkali-kali sampai isinya benar-benar bening. Setelah selesai dibasuh, saya bilang agar botolnya dijemur saja di rak. Eh, dia malah minta sabun. Oh, botolnya mau disabuni dulu hihi... padahal saya sendiri kalau cuci botol hanya dengan air saja. Karena yang dia pahami standard of procedure mencuci itu harus pakai sabun, ya sudah biarkan botolnya disabuni biar tambah bersih. Fix deh, gak perlu cari infal untuk menggantikan si Mbak pas Lebaran nanti 😹.
Rabu, 08 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (4)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 14
Hari ini Adek cuci apa lagi ya?
Cuci cup bekas es krim dan sendok kayunya juga!
Pulang kantor tadi saya membawa es krim cup untuk teman brownies sebagai tajil buka puasa. Adek yang dari awal udah eyeing bungkusan eskrim itu tentunya gak sabar nunggu Maghrib untuk buka dan makan eskrimnya. Jadi orang-orang masih puasa, dia dengan enaknya makan eskrim. Untung kamu lucu, Dek!
Kemasan-kemasan seperti cup eskrim itu biasanya tidak langsung kami buang. Kalau tidak terpakai jadi mainan, ditampung dulu sampai cukup terkumpul untuk diambil oleh pemulung.
"Adek mau cuci tempat eskrimnya gak?"
"Mau!"
Cup eskrim yang masih belepotan sisa eskrim itu dibasuh oleh air dan digosok oleh jari-jari kecinya sampai benar-benar sampai bersih, baru diberi sabun dan dibilas kembali. Secara visual tampaknya dia sudah paham alat makan yang sudah bersih itu seperti apa. Tadi saya sama sekali tidak memberikan instruksi apa-apa, alhamdulillah semua sudah bisa sendiri 👍.
Hari ini Adek cuci apa lagi ya?
Cuci cup bekas es krim dan sendok kayunya juga!
Pulang kantor tadi saya membawa es krim cup untuk teman brownies sebagai tajil buka puasa. Adek yang dari awal udah eyeing bungkusan eskrim itu tentunya gak sabar nunggu Maghrib untuk buka dan makan eskrimnya. Jadi orang-orang masih puasa, dia dengan enaknya makan eskrim. Untung kamu lucu, Dek!
Kemasan-kemasan seperti cup eskrim itu biasanya tidak langsung kami buang. Kalau tidak terpakai jadi mainan, ditampung dulu sampai cukup terkumpul untuk diambil oleh pemulung.
"Adek mau cuci tempat eskrimnya gak?"
"Mau!"
Cup eskrim yang masih belepotan sisa eskrim itu dibasuh oleh air dan digosok oleh jari-jari kecinya sampai benar-benar sampai bersih, baru diberi sabun dan dibilas kembali. Secara visual tampaknya dia sudah paham alat makan yang sudah bersih itu seperti apa. Tadi saya sama sekali tidak memberikan instruksi apa-apa, alhamdulillah semua sudah bisa sendiri 👍.
Selasa, 07 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (3)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 13
"Adek mau cuci gelas dulu," kata Adek setelah menghabiskan teh manisnya (yang tentunya bikin sendiri juga).
Setelah diajarin cuci alat makan sendiri jadi ketagihan pengen mampir terus ke tempat cuci deh. Bagoooos... 👍👍👍
Kali ini buka tutup keran udah sendiri. Walaupun harus jinjit, tapi relatif lebih mudah daripada buka keran kamar mandi yang agak keras. Jadi dia bisa mengontrol aliran airnya dengan lebih mudah juga.
Sudah hapal juga tahapan mencuci mulai dari bilas air-gosok dengan sabut bersabun-bilas air lagi-simpan di rak. Hal yang perlu diingatkan adalah membilas dengan air secukupnya, tidak perlu lama-lama; dan menutup keran jika air tidak digunakan agar air tidak terbuang percuma. Walaupun jadinya saya terkesan cerewet, saya pikir membiasakan dia untuk hemat air juga penting. Yang penting caranya memberitahu harus lemah lembut supaya dia tidak merasa dibaweli.
Soal bersih-nggaknya hasil cuciannya, tutup mata dulu deh, hihihihi...
"Adek mau cuci gelas dulu," kata Adek setelah menghabiskan teh manisnya (yang tentunya bikin sendiri juga).
Setelah diajarin cuci alat makan sendiri jadi ketagihan pengen mampir terus ke tempat cuci deh. Bagoooos... 👍👍👍
Kali ini buka tutup keran udah sendiri. Walaupun harus jinjit, tapi relatif lebih mudah daripada buka keran kamar mandi yang agak keras. Jadi dia bisa mengontrol aliran airnya dengan lebih mudah juga.
Sudah hapal juga tahapan mencuci mulai dari bilas air-gosok dengan sabut bersabun-bilas air lagi-simpan di rak. Hal yang perlu diingatkan adalah membilas dengan air secukupnya, tidak perlu lama-lama; dan menutup keran jika air tidak digunakan agar air tidak terbuang percuma. Walaupun jadinya saya terkesan cerewet, saya pikir membiasakan dia untuk hemat air juga penting. Yang penting caranya memberitahu harus lemah lembut supaya dia tidak merasa dibaweli.
Soal bersih-nggaknya hasil cuciannya, tutup mata dulu deh, hihihihi...
Langganan:
Postingan (Atom)


















