Game Level 3 - Family Project - Aliran Rasa
Dalam melakukan Tantangan 10 Hari di Level 3 ini lumayan banyak tantangannya. Setelah dua level sebelumnya sukses menyetor tugas tanpa rapel dan skip bahkan lebih dari 10 hari berturut-turut, level ini buyar deh. Diawali dengan harus masuk kantor ketika ART belum kembali, jadwal rutin saya jadi kacau-balau. Bolak-balik rumah-kantor-rumah ortu untuk menitipkan anak lumayan membuat energi saya terkuras, jadi jadwal setor tugas yang biasa saya lakukan malam hari jadi terlewat karena sering ketiduran. Akhirnya saya menetapkan target "yang penting lulus level 3", yang penting setor 10 tugas walaupun penuh rapelan πͺ.
Tepat di hari terakhir periode pengumpulan tugas, saya mengumpulkan tugas hari ke-10. Alhamdulillah target lulus level 3 tercapai, tapi tetap saja tidak puas rasanya karena kurang all out dalam mengerjakan project ini.
Setelah membaca Review Game Level 3 ini pun saya tertohok di bagian bahwa proyek peningkatan kecerdasan anak ini juga merupakan proyek peningkatan kecerdasan diri saya sendiri. Kalau menurut review tersebut, saya termasuk tipe quitter karena tidak berhasil mengalahkan tantangan manajemen waktu mengumpulkan tugas 10 hari berturut-turut. Saya kurang setuju sih, bagaimanapun saya masih memberikan effort untuk lulus Level 3. Walaupun bukan tugas yang sempurna, tapi setidaknya saya benar-benar mengerjakan 10 hari tantangan, bukan asal nulis saja.
Tampilkan postingan dengan label My Family My Team. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Family My Team. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Juli 2019
Sabtu, 29 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Cake-date with Mama
Game Level 3 - Family Project - Hari 9
Setelah les piano hari ini, saya mengajak Kakak untuk ngedate berdua aja di cakeshop dekat rumah. Kebetulan Adik lagi mau ditinggal di rumah dengan Abinya --dengan iming-iming makan eskrim π. Saya merasa udah jaranggg banget bisa pergi berdua sama Kakak, lebih sering pergi berdua sama Adik soalnya Kakak udah mau ditinggal di rumah. Kalau Adiknya pasti pengen ikut ke manapun Kakaknya pergi π.
Sejak Kakak menginjak usia 7 tahun setahun yang lalu, saya memang merasa si Kakak berubah lebih mandiri, dan tidak banyak bergantung lagi kepada saya. Sudah lebih memilih ditinggal di rumah atau bermain dengan teman-temannya daripada diajak jalan-jalan sama Mama dan Abinya (huhu...).
Misi saya mengajak playdate ini ingin menjaga kedekatan emosi dia dengan saya, supaya gak merasa tersisih gitu karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya (yang attachmentnya masih kuat banget ke Mamanya).
Terus ngedatenya ngapain? Ya cuma makan makanan yang kita suka dan ngobrol santai hehe... Yang penting Kakak happy dan menikmati kebersamaan berdua dengan Mamanya, karena saya pikir kecerdasan emosi seorang anak juga terbentuk melalui kedekatan dengan orang tuanya π.
Setelah les piano hari ini, saya mengajak Kakak untuk ngedate berdua aja di cakeshop dekat rumah. Kebetulan Adik lagi mau ditinggal di rumah dengan Abinya --dengan iming-iming makan eskrim π. Saya merasa udah jaranggg banget bisa pergi berdua sama Kakak, lebih sering pergi berdua sama Adik soalnya Kakak udah mau ditinggal di rumah. Kalau Adiknya pasti pengen ikut ke manapun Kakaknya pergi π.
Sejak Kakak menginjak usia 7 tahun setahun yang lalu, saya memang merasa si Kakak berubah lebih mandiri, dan tidak banyak bergantung lagi kepada saya. Sudah lebih memilih ditinggal di rumah atau bermain dengan teman-temannya daripada diajak jalan-jalan sama Mama dan Abinya (huhu...).
Misi saya mengajak playdate ini ingin menjaga kedekatan emosi dia dengan saya, supaya gak merasa tersisih gitu karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adiknya (yang attachmentnya masih kuat banget ke Mamanya).
Terus ngedatenya ngapain? Ya cuma makan makanan yang kita suka dan ngobrol santai hehe... Yang penting Kakak happy dan menikmati kebersamaan berdua dengan Mamanya, karena saya pikir kecerdasan emosi seorang anak juga terbentuk melalui kedekatan dengan orang tuanya π.
[Bunsay-Family Project] Membuat Clay
Game Level 3 - Family Project - Hari 8
Nah ini clay yang sudah dibentuk oleh Kakak, sedang dijemur supaya kering dan keras.
Taraaa...sudah selesai membuat dan mewarnai claynya.
Qadarullah, salah satu clay yang diwarnai oleh Kakak terjatuh dan pecah π₯. Terlihat wajahnya kecewa, tapi dia cukup ikhlas. "Gak apa-apa, kan masih ada clay lain yang aku buat," katanya. "Nanti bisa dipasang lagi pakai lem tembak ga ya?" Hmmmm mari kita coba nanti ya, Kak.
Selain melatih kreativitas, tanpa direncanakan Kakak juga belajar mengelola emosinya ketika terjadi hal yang tidak diduga.
Sekalian mengisi liburan sekolah, saya mendaftarkan Kakak dan Adik ke Workshop Membuat Clay. Kegiatan ini selain melatih motorik halusnya Adik, juga menstimulasi kreativitas Kakak dan Adik.
Di meja sudah disediakan contoh bentuk-bentuk yang bisa dibuat dari clay, tapi tiap anak dibebaskan untuk membuat apa saja. Adik masih nurut-nurut aja sama Tante-tante pembimbingnya, hehe jadi dia membuat strawberry seperti contoh. Kalau Kakak, dia memutuskan untuk membuat kue ulang tahun lengkap dengan lilinnya, jembatan, dan bentuk bolaπ. Selain membentuk clay, mereka juga boleh mewarnainya.
Nah ini clay yang sudah dibentuk oleh Kakak, sedang dijemur supaya kering dan keras.
Taraaa...sudah selesai membuat dan mewarnai claynya.
Qadarullah, salah satu clay yang diwarnai oleh Kakak terjatuh dan pecah π₯. Terlihat wajahnya kecewa, tapi dia cukup ikhlas. "Gak apa-apa, kan masih ada clay lain yang aku buat," katanya. "Nanti bisa dipasang lagi pakai lem tembak ga ya?" Hmmmm mari kita coba nanti ya, Kak.
Selain melatih kreativitas, tanpa direncanakan Kakak juga belajar mengelola emosinya ketika terjadi hal yang tidak diduga.
Rabu, 26 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Penjumlahan
Game Level 3 - Family Project - Hari 7
Hari ini proyek peningkatan kecerdasannya kembali ke matematika. Sekalian refresh karena udah sebulan libur sekolah, saya memberikan "PR" worksheet penjumlahan untuk Kakak. Worksheet ini saya print dari salah satu web Montessori. Kalau lihat worksheetnya memang gampang banget ya. Kalau di Montessori, memang untuk belajar matematika itu ditekankan untuk memahami pola dulu. Kebetulan Kakak sudah paham konsep penjumlahan (bukan menghapal 1+1 = 2) jadi sudah bisa proceed ke worksheet.
Hari ini proyek peningkatan kecerdasannya kembali ke matematika. Sekalian refresh karena udah sebulan libur sekolah, saya memberikan "PR" worksheet penjumlahan untuk Kakak. Worksheet ini saya print dari salah satu web Montessori. Kalau lihat worksheetnya memang gampang banget ya. Kalau di Montessori, memang untuk belajar matematika itu ditekankan untuk memahami pola dulu. Kebetulan Kakak sudah paham konsep penjumlahan (bukan menghapal 1+1 = 2) jadi sudah bisa proceed ke worksheet.
Kalau penjumlahan begini udah cingcay buat Kakak, next pengurangan!
Senin, 24 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Berlatih Piano
Game Level 3 - Family Project - Hari 6
Salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan emosi adalah bermain piano. Bermain piano mengasah kemampuan otak kanan yang merupakan pusat kemampuan sosial, komunikasi, pengendalian emosi, dan kreativitas.
Memasuki bulan ketiga les piano di Yamaha, lagu-lagu yang dipelajari sudah mulai kompleks. Ritme tiap bar sudah berbeda, Kakak harus bisa membedakan not 1, 2, 3, sampai 4 ketukan. Belum lagi kombinasi ritme yang berbeda antara tangan kiri dan tangan kanan.
Ketika mulai mengalami kesulitan berlatih, Kakak mengeluh, "Susah banget, Ma."
Saya paham memang mempelajari lagu tersebut memang cukup menantang untuk levelnya.
"Iya memang susah karena Kakak belum bisa. Kalau susah, artinya Kakak harus latihan berkali-kali supaya bisa. Dulu sebelum mulai les piano Kakak gak bisa sama sekali kan? Tapi sekarang udah bisa main lagu Little Hans karena Kakak latihan terus."
Saya membantu Kakak berlatih dengan tangan kanan dulu sampai lancar, baru mulai belajar tangan kiri. Untung emaknya dulu pernah kursus electone jadi gak buta-buta amat sama not balok wkwkwkwk...
Setiap sesi latihan di rumah, saya instruksikan Kakak untuk mengulang-ulang bermain lagunya sampai 10 kali. Kebetulan lagunya pendek-pendek, jadi gak kerasa sih main 10 kali. Finally setelah 2 hari, mainnya mulai lancar.
"Alhamdulillah, Kakak jadi bisa kan karena latihan?"
Kakak senyum-senyum girang aja.
Latihan piano ini ternyata bukan hanya melatih kecerdasan emosional, tetapi juga adversity quotient. Tentang bagaimana ketika Kakak menghadapi kesulitan bermain lagu yang semakin menantang, apakah tinggalkan saja lagunya dan berhenti les piano, atau ambil tantangannya dengan bertatih-tatih membaca not demi not, mengulang-ngulang berhari-hari hingga dia menguasai lagunya tanpa membaca partitur lagi.
Salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan emosi adalah bermain piano. Bermain piano mengasah kemampuan otak kanan yang merupakan pusat kemampuan sosial, komunikasi, pengendalian emosi, dan kreativitas.
Memasuki bulan ketiga les piano di Yamaha, lagu-lagu yang dipelajari sudah mulai kompleks. Ritme tiap bar sudah berbeda, Kakak harus bisa membedakan not 1, 2, 3, sampai 4 ketukan. Belum lagi kombinasi ritme yang berbeda antara tangan kiri dan tangan kanan.
Ketika mulai mengalami kesulitan berlatih, Kakak mengeluh, "Susah banget, Ma."
Saya paham memang mempelajari lagu tersebut memang cukup menantang untuk levelnya.
"Iya memang susah karena Kakak belum bisa. Kalau susah, artinya Kakak harus latihan berkali-kali supaya bisa. Dulu sebelum mulai les piano Kakak gak bisa sama sekali kan? Tapi sekarang udah bisa main lagu Little Hans karena Kakak latihan terus."
Saya membantu Kakak berlatih dengan tangan kanan dulu sampai lancar, baru mulai belajar tangan kiri. Untung emaknya dulu pernah kursus electone jadi gak buta-buta amat sama not balok wkwkwkwk...
Setiap sesi latihan di rumah, saya instruksikan Kakak untuk mengulang-ulang bermain lagunya sampai 10 kali. Kebetulan lagunya pendek-pendek, jadi gak kerasa sih main 10 kali. Finally setelah 2 hari, mainnya mulai lancar.
"Alhamdulillah, Kakak jadi bisa kan karena latihan?"
Kakak senyum-senyum girang aja.
Latihan piano ini ternyata bukan hanya melatih kecerdasan emosional, tetapi juga adversity quotient. Tentang bagaimana ketika Kakak menghadapi kesulitan bermain lagu yang semakin menantang, apakah tinggalkan saja lagunya dan berhenti les piano, atau ambil tantangannya dengan bertatih-tatih membaca not demi not, mengulang-ngulang berhari-hari hingga dia menguasai lagunya tanpa membaca partitur lagi.
Selasa, 18 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Halal Bi Halal
Game Level 3-Family Project-Hari 3
Tadi siang, saya dan anak-anak berkesempatan makan siang di sebuah restoran. Kebetulan hari ini saya cuti dan lagi pengen jalan-jalan π. Sambil menunggu makanan kami datang, kakak melihat tulisan "halal" di papan nama restorannya, lalu dia nyeletuk, "Halal.... Mama tahu halal bi halal?".
Wkwkwk nyambung aja. Saya pikir pas nih buat bahas istilah "halal bi halal" yang selama ini penggunaannya salah kaprah di Indonesia.
"Kalau halal Kakak udah tau kan artinya, makanan yang boleh dimakan sama muslim. Kalau halal bi halal, itu sebenarnya gak ada artinya. Di Bahasa Arab gak ada istilah "halal bi halal". Yang betul itu "silaturahim". Halal bi halal biasanya sebutan buat acara silaturahim setelah Lebaran."
Kakak cuma manggut-manggut. Mungkin dia bingung kenapa Mama jadi ngasi kuliah hahaha... Mudah-mudahan infonya nyangkut jadi gak kaya Mamanya baru tau istilah "halal bi halal" itu salah pas udah tuwir gini π. Saya gak tau pengetahuan ini termasuk kecerdasan intelektual atau spriritual ya?
Tadi siang, saya dan anak-anak berkesempatan makan siang di sebuah restoran. Kebetulan hari ini saya cuti dan lagi pengen jalan-jalan π. Sambil menunggu makanan kami datang, kakak melihat tulisan "halal" di papan nama restorannya, lalu dia nyeletuk, "Halal.... Mama tahu halal bi halal?".
Wkwkwk nyambung aja. Saya pikir pas nih buat bahas istilah "halal bi halal" yang selama ini penggunaannya salah kaprah di Indonesia.
"Kalau halal Kakak udah tau kan artinya, makanan yang boleh dimakan sama muslim. Kalau halal bi halal, itu sebenarnya gak ada artinya. Di Bahasa Arab gak ada istilah "halal bi halal". Yang betul itu "silaturahim". Halal bi halal biasanya sebutan buat acara silaturahim setelah Lebaran."
Kakak cuma manggut-manggut. Mungkin dia bingung kenapa Mama jadi ngasi kuliah hahaha... Mudah-mudahan infonya nyangkut jadi gak kaya Mamanya baru tau istilah "halal bi halal" itu salah pas udah tuwir gini π. Saya gak tau pengetahuan ini termasuk kecerdasan intelektual atau spriritual ya?
[Bunsay-Family Project] Gerakan Sholat
Game Level 3 - Family Project - Hari 2
Sholat adalah tiang agama, oleh karena itu segala rukun sholat harus ditunaikan dengan baik sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Membiasakan anak untuk sholat tidak cukup, harus dibarengi juga dengan pembiasaan melakukan sholat yang benar, baik dari segi bacaan dan gerakannya. Berkaca dari pengalaman saya yang baru tahu cara sholat yang benar dari guru agama di sekolah, saya ingin anak-anak belajar sholat yang benar dari orang tuanya terlebih dahulu.
Pembiasaan Kakak untuk sholat 5 waktu sudah dilakukan, bacaan sholat pun sudah dilakukan. Hari itu, saya ingin "mengetes" gerakan sholat Kakak karena biasanya tertutup mukena jadi tidak terlihat jelas oleh saya.
Pertama, gerakan takbiratul ikhram. Telapak tangan menghadap ke depan, posisi di sebelah telinga.
Kedua, bagaimana posisi bersedekap. Tangan kiri di bawah tangan kanan, pergelangan tangan saling menempel, keduanya ditaruh di antara dada dan pusar.
Ketiga, posisi rukuk. Tangan ditaruh di kedua lutut, punggung dan kaki membentuk sudut 90 derajat.
Keempat, posisi sujud. Anggota badan yang menempel alas sholat adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki. Siku tidak boleh menempel lantai.
Kelima, posisi duduk di antara sujud dan tahiyat. Bagaimana perbedaan duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir.
Alhamdulillah gerakan-gerakannya hampir sempurna, hanya posisi sujud yang perlu dikoreksi.
Mempelajari gerakan sholat merupakan salah satu latihan kecerdasan spiritual, karena sekedar rutin melakukan ibadah saja tidak cukup. Melakukan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, itulah yang harus ditanamkan sejak kecil.
Sholat adalah tiang agama, oleh karena itu segala rukun sholat harus ditunaikan dengan baik sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Membiasakan anak untuk sholat tidak cukup, harus dibarengi juga dengan pembiasaan melakukan sholat yang benar, baik dari segi bacaan dan gerakannya. Berkaca dari pengalaman saya yang baru tahu cara sholat yang benar dari guru agama di sekolah, saya ingin anak-anak belajar sholat yang benar dari orang tuanya terlebih dahulu.
Pembiasaan Kakak untuk sholat 5 waktu sudah dilakukan, bacaan sholat pun sudah dilakukan. Hari itu, saya ingin "mengetes" gerakan sholat Kakak karena biasanya tertutup mukena jadi tidak terlihat jelas oleh saya.
Pertama, gerakan takbiratul ikhram. Telapak tangan menghadap ke depan, posisi di sebelah telinga.
Kedua, bagaimana posisi bersedekap. Tangan kiri di bawah tangan kanan, pergelangan tangan saling menempel, keduanya ditaruh di antara dada dan pusar.
Ketiga, posisi rukuk. Tangan ditaruh di kedua lutut, punggung dan kaki membentuk sudut 90 derajat.
Keempat, posisi sujud. Anggota badan yang menempel alas sholat adalah kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kaki. Siku tidak boleh menempel lantai.
Kelima, posisi duduk di antara sujud dan tahiyat. Bagaimana perbedaan duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir.
Alhamdulillah gerakan-gerakannya hampir sempurna, hanya posisi sujud yang perlu dikoreksi.
Mempelajari gerakan sholat merupakan salah satu latihan kecerdasan spiritual, karena sekedar rutin melakukan ibadah saja tidak cukup. Melakukan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, itulah yang harus ditanamkan sejak kecil.
Kamis, 13 Juni 2019
[Bunsay-Family Project] Berhitung
Game Level 3 - Family Project - Hari 1
Sesungguhnya di suasana post-Lebaran dengan support system yang belum lengkap (baca: ART masih mudik) membuat saya kurang fokus untuk memikirkan family project untuk misi peningkatam kecerdasan anak ini. Saya baru menentukan aja kalau partner Game Level 3 adalah si Kakak. Di usianya yang 8 tahun, banyak hal-hal menantang yamg bisa digali untuk bahan family poject. Tadinya pengen skip hari pertama karena hari ini pagi saya di kantor, sore sampai malam menemani anak-anak playdate dengan teman-temannya. Rasanya gak ada waktu untuk proyek-proyekan.
Tapi setelah baca motivasi dari Bu Fasil tercintakuh, saya mikir masa sih seharian penuh ga ada sama sekali aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan Kakak. Akhirnya kepilih salah satu aktivitas untuk meningkatkan IQ: menghitung uang! π
Tadi sore Kakak playdate ke Kidzania dengan teman-teman sekelasnya. Bagi yang belum tahu, di Kidzania anak-anak bisa "pura-pura" mencoba berbagai profesi kemudian mendapatkan upah dalam mata uang Kidzos. Walaupun uang pura-pura, anak-anak mah tetep aja seneng berasa dapet uang beneran.
Setelah bekerja di beberapa tempat, Kakak menghitung penghasilannya. Nominalnya ada yang 5, 10, dan 20. Awalnya pusing juga dia menghitung total Kidzos yang dia dapat.
Saya suruh pisahkan dulu uangnya sesuai nominalnya masing-masing.
Kakak menghitung lembaran uangnya sambil bergumam, "Yang 5 ada 3 jadi 5, 10, 15. Yang 10 ada 6, jadi 10, 20, 30, 40, 50, 60. Yang 20 ada 4 berarti 20, 40, 60, 80."
Tanpa sadar dia sudah melakukan perkalian ya sebenarnya. Instead of ngapalin 5x3 =15, 10x6 =60, dan 20x4 = 80, Kakak menyebut kelipatannya, yang merupakan konsep dasar perkalian.
"Jadi 15, 60, 80 berapa jumlahnya Ma?" Kalau jumlah puluhan harus ditulis di kertas sementara saat itu kami sedang tidak membawa alat tulis.
"15+60+80=155," jawab saya membantunya.
"Asyiiiik uangku udah 155!"
Alhamdulillah ya Kak, dapet gaji dan bisa ngitung juga gajinya π¬.
Sesungguhnya di suasana post-Lebaran dengan support system yang belum lengkap (baca: ART masih mudik) membuat saya kurang fokus untuk memikirkan family project untuk misi peningkatam kecerdasan anak ini. Saya baru menentukan aja kalau partner Game Level 3 adalah si Kakak. Di usianya yang 8 tahun, banyak hal-hal menantang yamg bisa digali untuk bahan family poject. Tadinya pengen skip hari pertama karena hari ini pagi saya di kantor, sore sampai malam menemani anak-anak playdate dengan teman-temannya. Rasanya gak ada waktu untuk proyek-proyekan.
Tapi setelah baca motivasi dari Bu Fasil tercintakuh, saya mikir masa sih seharian penuh ga ada sama sekali aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan Kakak. Akhirnya kepilih salah satu aktivitas untuk meningkatkan IQ: menghitung uang! π
Tadi sore Kakak playdate ke Kidzania dengan teman-teman sekelasnya. Bagi yang belum tahu, di Kidzania anak-anak bisa "pura-pura" mencoba berbagai profesi kemudian mendapatkan upah dalam mata uang Kidzos. Walaupun uang pura-pura, anak-anak mah tetep aja seneng berasa dapet uang beneran.
Setelah bekerja di beberapa tempat, Kakak menghitung penghasilannya. Nominalnya ada yang 5, 10, dan 20. Awalnya pusing juga dia menghitung total Kidzos yang dia dapat.
Saya suruh pisahkan dulu uangnya sesuai nominalnya masing-masing.
Kakak menghitung lembaran uangnya sambil bergumam, "Yang 5 ada 3 jadi 5, 10, 15. Yang 10 ada 6, jadi 10, 20, 30, 40, 50, 60. Yang 20 ada 4 berarti 20, 40, 60, 80."
Tanpa sadar dia sudah melakukan perkalian ya sebenarnya. Instead of ngapalin 5x3 =15, 10x6 =60, dan 20x4 = 80, Kakak menyebut kelipatannya, yang merupakan konsep dasar perkalian.
"Jadi 15, 60, 80 berapa jumlahnya Ma?" Kalau jumlah puluhan harus ditulis di kertas sementara saat itu kami sedang tidak membawa alat tulis.
"15+60+80=155," jawab saya membantunya.
"Asyiiiik uangku udah 155!"
Alhamdulillah ya Kak, dapet gaji dan bisa ngitung juga gajinya π¬.
Langganan:
Postingan (Atom)








