Tampilkan postingan dengan label Hari 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari 14. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Mei 2019

[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (4)

Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 14

Hari ini Adek cuci apa lagi ya?

Cuci cup bekas es krim dan sendok kayunya juga!

Pulang kantor tadi saya membawa es krim cup untuk teman brownies sebagai tajil buka puasa. Adek yang dari awal udah eyeing bungkusan eskrim itu tentunya gak sabar nunggu Maghrib untuk buka dan makan eskrimnya. Jadi orang-orang masih puasa, dia dengan enaknya makan eskrim. Untung kamu lucu, Dek!

Kemasan-kemasan seperti cup eskrim itu biasanya tidak langsung kami buang. Kalau tidak terpakai jadi mainan, ditampung dulu sampai cukup terkumpul untuk diambil oleh pemulung.

"Adek mau cuci tempat eskrimnya gak?"

"Mau!"

Cup eskrim yang masih belepotan sisa eskrim itu dibasuh oleh air dan digosok oleh jari-jari kecinya sampai benar-benar sampai bersih, baru diberi sabun dan dibilas kembali. Secara visual tampaknya dia sudah paham alat makan yang sudah bersih itu seperti apa. Tadi saya sama sekali tidak memberikan instruksi apa-apa, alhamdulillah semua sudah bisa sendiri 👍.


Rabu, 10 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Kakak Tabrakan!

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 14

"Assalamu'alaikum," sapa saya kepada anak-anak ketika pulang dari kantor tadi.

"Wa'alaikumsalaaaaam," jawab anak-anak ceria menyambut Mamanya yang abis kerja bagai qudha 🐎.

Saya masuk rumah lalu mengeluarkan belanjaan dari Alfamart tadi. Kebetulan tissue basah dan roti habis, eh terus malah nambah belanjaan cemilan 🙈. Sambil membereskan belanjaan, saya mengobrol dengan anak-anak. Saya lihat rambut kakak masih basah seperti baru selesai mandi.

"Kakak baru selesai mandi?"

"Iya, tadi aku kan habis main sepeda."

Lalu Kakak lanjut cerita.

"Mama tadi aku habis....nangis."

Saya langsung berhenti beres-beres, mengarahkan badan saya ke Kakak dan menatap wajahnya.

"Kenapa, Kak?" tanya saya khawatir tapi tetap dengan nada pelan.

"Aku habis jatuh di sekolah. Pipiku ini tadinya merah."

Saya lihat pipinya sudah tidak merah dan tidak ada tanda-tanda bengkak juga. Alhamdulillah.

"Jatuh kenapa?"

"Tadi aku kan lari terus ada Ken juga lari terus kita tabrakan. Aku langsung nangis."

"Ooooh, Kakak sakit ya? Sekarang masih sakit?" saya mencoba BEREMPATI

"Udah ngga tapi kakiku memar sedikit," sambil menunjukkan kakinya. Lalu dia memeluk saya.

"Alhamdulillah kalau udah nggak sakit. Kalau habis terbentur memang bakal memar tapi nanti insya Allah sembuh sendiri ya. Kakak nanti hati-hati ya." hibur saya sambil balas memeluknya.

"Iya Ma. Kakak makan dulu ya."

Kakak mulai makan malam bersama Adik (mereka memang biasa makan malam sebelum Maghrib), saya pun melanjutkan beres-beres belanjaan.

Saya menyadari tadi bahwa empati itu tidak cukup ditunjukkan hanya dengan kalimat, "sakit ya?", "sedih ya?", atau "senang ya?". Bahasa tubuh pun harus mendukung. Tunjukkan perhatian dengan menghentikan kegiatan yang kita lakukan, mendekat ke arahnya, tatap matanya, dan arahkan juga seluruh tubuh kita menghadapnya. Komunikasi produktif itu terjadi bukan hanya ketika kita berbicara, tetapi juga ketika kita mendengarkan. Mendengarkan itu bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan seluruh anggota tubuh kita.