Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 16
Masih edisi cuci alat makan karena anaknya lagi semangat-semangatnya turun ke tempat cuci 😬. Setelah cuci gelas, mangkok, sendok, garpu, cup eskrim, sekarang dia mau mencuci botol kemasan. Sama seperti cup eskrim, botol kemasan yang habis kami minum dicuci dan dikeringkan dulu untuk re-use atau dikumpulkan ke pemulung.
Barang baru yang dicuci, semangatnya beda lagi. Dengan serius, botol itu dibasuh oleh air berkali-kali sampai isinya benar-benar bening. Setelah selesai dibasuh, saya bilang agar botolnya dijemur saja di rak. Eh, dia malah minta sabun. Oh, botolnya mau disabuni dulu hihi... padahal saya sendiri kalau cuci botol hanya dengan air saja. Karena yang dia pahami standard of procedure mencuci itu harus pakai sabun, ya sudah biarkan botolnya disabuni biar tambah bersih. Fix deh, gak perlu cari infal untuk menggantikan si Mbak pas Lebaran nanti 😹.
Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Mei 2019
Rabu, 08 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (4)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 14
Hari ini Adek cuci apa lagi ya?
Cuci cup bekas es krim dan sendok kayunya juga!
Pulang kantor tadi saya membawa es krim cup untuk teman brownies sebagai tajil buka puasa. Adek yang dari awal udah eyeing bungkusan eskrim itu tentunya gak sabar nunggu Maghrib untuk buka dan makan eskrimnya. Jadi orang-orang masih puasa, dia dengan enaknya makan eskrim. Untung kamu lucu, Dek!
Kemasan-kemasan seperti cup eskrim itu biasanya tidak langsung kami buang. Kalau tidak terpakai jadi mainan, ditampung dulu sampai cukup terkumpul untuk diambil oleh pemulung.
"Adek mau cuci tempat eskrimnya gak?"
"Mau!"
Cup eskrim yang masih belepotan sisa eskrim itu dibasuh oleh air dan digosok oleh jari-jari kecinya sampai benar-benar sampai bersih, baru diberi sabun dan dibilas kembali. Secara visual tampaknya dia sudah paham alat makan yang sudah bersih itu seperti apa. Tadi saya sama sekali tidak memberikan instruksi apa-apa, alhamdulillah semua sudah bisa sendiri 👍.
Hari ini Adek cuci apa lagi ya?
Cuci cup bekas es krim dan sendok kayunya juga!
Pulang kantor tadi saya membawa es krim cup untuk teman brownies sebagai tajil buka puasa. Adek yang dari awal udah eyeing bungkusan eskrim itu tentunya gak sabar nunggu Maghrib untuk buka dan makan eskrimnya. Jadi orang-orang masih puasa, dia dengan enaknya makan eskrim. Untung kamu lucu, Dek!
Kemasan-kemasan seperti cup eskrim itu biasanya tidak langsung kami buang. Kalau tidak terpakai jadi mainan, ditampung dulu sampai cukup terkumpul untuk diambil oleh pemulung.
"Adek mau cuci tempat eskrimnya gak?"
"Mau!"
Cup eskrim yang masih belepotan sisa eskrim itu dibasuh oleh air dan digosok oleh jari-jari kecinya sampai benar-benar sampai bersih, baru diberi sabun dan dibilas kembali. Secara visual tampaknya dia sudah paham alat makan yang sudah bersih itu seperti apa. Tadi saya sama sekali tidak memberikan instruksi apa-apa, alhamdulillah semua sudah bisa sendiri 👍.
Selasa, 07 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (3)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 13
"Adek mau cuci gelas dulu," kata Adek setelah menghabiskan teh manisnya (yang tentunya bikin sendiri juga).
Setelah diajarin cuci alat makan sendiri jadi ketagihan pengen mampir terus ke tempat cuci deh. Bagoooos... 👍👍👍
Kali ini buka tutup keran udah sendiri. Walaupun harus jinjit, tapi relatif lebih mudah daripada buka keran kamar mandi yang agak keras. Jadi dia bisa mengontrol aliran airnya dengan lebih mudah juga.
Sudah hapal juga tahapan mencuci mulai dari bilas air-gosok dengan sabut bersabun-bilas air lagi-simpan di rak. Hal yang perlu diingatkan adalah membilas dengan air secukupnya, tidak perlu lama-lama; dan menutup keran jika air tidak digunakan agar air tidak terbuang percuma. Walaupun jadinya saya terkesan cerewet, saya pikir membiasakan dia untuk hemat air juga penting. Yang penting caranya memberitahu harus lemah lembut supaya dia tidak merasa dibaweli.
Soal bersih-nggaknya hasil cuciannya, tutup mata dulu deh, hihihihi...
"Adek mau cuci gelas dulu," kata Adek setelah menghabiskan teh manisnya (yang tentunya bikin sendiri juga).
Setelah diajarin cuci alat makan sendiri jadi ketagihan pengen mampir terus ke tempat cuci deh. Bagoooos... 👍👍👍
Kali ini buka tutup keran udah sendiri. Walaupun harus jinjit, tapi relatif lebih mudah daripada buka keran kamar mandi yang agak keras. Jadi dia bisa mengontrol aliran airnya dengan lebih mudah juga.
Sudah hapal juga tahapan mencuci mulai dari bilas air-gosok dengan sabut bersabun-bilas air lagi-simpan di rak. Hal yang perlu diingatkan adalah membilas dengan air secukupnya, tidak perlu lama-lama; dan menutup keran jika air tidak digunakan agar air tidak terbuang percuma. Walaupun jadinya saya terkesan cerewet, saya pikir membiasakan dia untuk hemat air juga penting. Yang penting caranya memberitahu harus lemah lembut supaya dia tidak merasa dibaweli.
Soal bersih-nggaknya hasil cuciannya, tutup mata dulu deh, hihihihi...
Senin, 06 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri (2)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 12
Hari pertama puasa merupakan hari yang exciting untuk anak-anak, terutama bagian buka puasanya 😅. Walaupun Adek belum puasa, tapi dia tetap ingin ikut sibuk mempersiapkan menu buka puasa. Dikasih tugas untuk aduk-aduk es buah saja dia sudah senang. Antusiasmenya berlanjut ketika sudah selesai makan es buah. Tanpa disuruh, dia bawa sendiri mangkok bekas kakaknya (yang punya dia belum habis soalnya) ke tempat cuci piring. Lalu dia bilang, "Adek mau cuci piring." Waaah tentu boleh dong!
Dengan susah payah dia mencoba menggapai keran, akhirnya terbuka juga walaupun aliran airnya masih kecil. Saya minta izin untuk memutarkan kerannya lagi supaya airnya lebih banyak. Setelah membasahi mangkok, dia masih celingkukan mengingat-ingat harus melakukan apa selanjutnya. Saya beritahu kalau mangkoknya perlu digosok dengan sabun. Kali ini posisi tangannya sudah benar, tangan kiri memegang mangkok, tangan kanan memegang sabut. Kelihatannya masih agak kesulitan memegang mangkok sambil menggosok, beberapa kali sempat terjatuh karena licin. Jadi mangkoknya ditempel ke dadanya supaya diam 😄. Baju belepotan busa sabun pun biarlah.
"Udah, Ma" katanya sambil memberikan isyarat minta tolong dibukakan keran. Kemudian dibilas sampai busanya benar-benar bersih. Setelah itu, eh mangkoknya ditaruh lagi di tumpukan panci kotor hahahaha...
"Kalau udah bersih ditaruhnya di sana ya, Dek," kata saya sambil menunjuk rak piring bersih.
"Oh iya," sambil tersenyum malu.
Saya pikir dia sudah selesai, ternyata dia mengambil lagi mangkok kotor lain. Dengan langkah-langkah yang sama, dia mencuci mangkok tersebut dan kali ini sebelum selesai saya ingatkan lagi kalau alat makan yang sudah bersih ditaruh di rak 😬.
Selesai mencuci mangkok, dia berseru lagi dengan bangga, "Adek bantuin Mama ya, Adek kan udah gede." Huwaaaa iya bener, Dek, kamu sudah besar 😊.
Hari pertama puasa merupakan hari yang exciting untuk anak-anak, terutama bagian buka puasanya 😅. Walaupun Adek belum puasa, tapi dia tetap ingin ikut sibuk mempersiapkan menu buka puasa. Dikasih tugas untuk aduk-aduk es buah saja dia sudah senang. Antusiasmenya berlanjut ketika sudah selesai makan es buah. Tanpa disuruh, dia bawa sendiri mangkok bekas kakaknya (yang punya dia belum habis soalnya) ke tempat cuci piring. Lalu dia bilang, "Adek mau cuci piring." Waaah tentu boleh dong!
Dengan susah payah dia mencoba menggapai keran, akhirnya terbuka juga walaupun aliran airnya masih kecil. Saya minta izin untuk memutarkan kerannya lagi supaya airnya lebih banyak. Setelah membasahi mangkok, dia masih celingkukan mengingat-ingat harus melakukan apa selanjutnya. Saya beritahu kalau mangkoknya perlu digosok dengan sabun. Kali ini posisi tangannya sudah benar, tangan kiri memegang mangkok, tangan kanan memegang sabut. Kelihatannya masih agak kesulitan memegang mangkok sambil menggosok, beberapa kali sempat terjatuh karena licin. Jadi mangkoknya ditempel ke dadanya supaya diam 😄. Baju belepotan busa sabun pun biarlah.
"Udah, Ma" katanya sambil memberikan isyarat minta tolong dibukakan keran. Kemudian dibilas sampai busanya benar-benar bersih. Setelah itu, eh mangkoknya ditaruh lagi di tumpukan panci kotor hahahaha...
"Kalau udah bersih ditaruhnya di sana ya, Dek," kata saya sambil menunjuk rak piring bersih.
"Oh iya," sambil tersenyum malu.
Saya pikir dia sudah selesai, ternyata dia mengambil lagi mangkok kotor lain. Dengan langkah-langkah yang sama, dia mencuci mangkok tersebut dan kali ini sebelum selesai saya ingatkan lagi kalau alat makan yang sudah bersih ditaruh di rak 😬.
Selesai mencuci mangkok, dia berseru lagi dengan bangga, "Adek bantuin Mama ya, Adek kan udah gede." Huwaaaa iya bener, Dek, kamu sudah besar 😊.
Minggu, 05 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Cuci Alat Makanmu Sendiri
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 11
Aktivitas ketiga dalam rangka Game Level 2 ini adalah mencuci alat makan sendiri. Dibantu ART itu memang meringankan segala pekerjaan, tapi kadang jadi lupa kalau ada pekerjaan yang harusnya bisa anak-anak lakukan sendiri, salah satunya mencuci alat makan sendiri.
Sebetulnya ide aktivitas mencuci alat makan untuk level ini datang secara spontan. Tadi pagi saya dan anak-anak membuat pancake untuk sarapan. Adek melihat kakaknya mengaduk-aduk adonan ingin ikutan juga. Melihat kakaknya mencuci garpu juga ingin ikutan.
"Adek mau cuci sendok?" tanya saya.
"Iya adek mau cuci sendiri," katanya.
Posisi keran di wastafel dapur saya memang kurang friendly untuk batita yang lengannya masih pendek. Bangku pijakan (jojodog, kalau kata orang Sunda mah) yang ada di rumah belum cukup tinggi untuk membantu Adek meraih keran. Jadi untuk mencuci tangan atau mencuci piring masih harus dibantu orang dewasa atau kakaknya.
Saya minta tolong Kakak untuk membukakan keran, lalu Adek mencuci sendok yang belepotan adonan di bawah aliran air. Belum diberi sabun, sendoknya hampir saya ditaruh ke rak alat-alat makan yang sudah bersih 😆. Reflek saya langsung berseru, "Eh, sendoknya jangan ditaruh di sana dulu!" Oops, semoga Adek gak kaget. Saya lanjutkan dengan nada yang lebih pelan, "Dikasih sabun dulu ya, Dek. Gosok pakai sabut."
Awalnya dia memegang sendok dengan tangan kanan dan sabut dengan tangan kiri, jadi agak sulit menggosoknya. Saya beritahu untuk menukar sendok dipegang tangan kiri dan sabut oleh tangan sebaliknya. Nah, jadi lebih mudah membersihkannya. Serius sekali mukanya mencuci sendok, sayang saya lupa mendokumentasikannya hihi...
Selesai dibersihkan dengan sabun, Kakak membantu membuka keran lagi agar Adek dapat membasuh sendoknya.
"Udah, Ma!" lapornya.
"Oke, taruh di tempat sendok yang bersih ya."
Hari ini Adek belajar mencuci sendok dulu, besok-besok mungkin diupgrade ke piring dan gelas. Tadi saya perhatikan sekilas tampaknya cukup bersih, hehe... yang penting perkenalan tahapannya dulu.
Aktivitas ketiga dalam rangka Game Level 2 ini adalah mencuci alat makan sendiri. Dibantu ART itu memang meringankan segala pekerjaan, tapi kadang jadi lupa kalau ada pekerjaan yang harusnya bisa anak-anak lakukan sendiri, salah satunya mencuci alat makan sendiri.
Sebetulnya ide aktivitas mencuci alat makan untuk level ini datang secara spontan. Tadi pagi saya dan anak-anak membuat pancake untuk sarapan. Adek melihat kakaknya mengaduk-aduk adonan ingin ikutan juga. Melihat kakaknya mencuci garpu juga ingin ikutan.
"Adek mau cuci sendok?" tanya saya.
"Iya adek mau cuci sendiri," katanya.
Posisi keran di wastafel dapur saya memang kurang friendly untuk batita yang lengannya masih pendek. Bangku pijakan (jojodog, kalau kata orang Sunda mah) yang ada di rumah belum cukup tinggi untuk membantu Adek meraih keran. Jadi untuk mencuci tangan atau mencuci piring masih harus dibantu orang dewasa atau kakaknya.
Saya minta tolong Kakak untuk membukakan keran, lalu Adek mencuci sendok yang belepotan adonan di bawah aliran air. Belum diberi sabun, sendoknya hampir saya ditaruh ke rak alat-alat makan yang sudah bersih 😆. Reflek saya langsung berseru, "Eh, sendoknya jangan ditaruh di sana dulu!" Oops, semoga Adek gak kaget. Saya lanjutkan dengan nada yang lebih pelan, "Dikasih sabun dulu ya, Dek. Gosok pakai sabut."
Awalnya dia memegang sendok dengan tangan kanan dan sabut dengan tangan kiri, jadi agak sulit menggosoknya. Saya beritahu untuk menukar sendok dipegang tangan kiri dan sabut oleh tangan sebaliknya. Nah, jadi lebih mudah membersihkannya. Serius sekali mukanya mencuci sendok, sayang saya lupa mendokumentasikannya hihi...
Selesai dibersihkan dengan sabun, Kakak membantu membuka keran lagi agar Adek dapat membasuh sendoknya.
"Udah, Ma!" lapornya.
"Oke, taruh di tempat sendok yang bersih ya."
Hari ini Adek belajar mencuci sendok dulu, besok-besok mungkin diupgrade ke piring dan gelas. Tadi saya perhatikan sekilas tampaknya cukup bersih, hehe... yang penting perkenalan tahapannya dulu.
Sabtu, 04 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Brush...Brush...Brush Our Teeth (6)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 10
Tadinya hari ini saya mau menceritakan aktivitas kemandirian yang baru, tetapi pagi ini saya sangat terkesan dengan progress yang ditunjukkan oleh Adek dalam menyikat gigi sendiri. Rasanya saya merasa perlu menambah satu cerita lagi sebagai apresiasi untuk Adek.
Setiap Sabtu pagi, kegiatan Kakak dan Adek adalah kursus berenang. Saya bangunkan Adek ketika jam sudah menunjukkan pukul 7.15 sedangkan jadwal berenang pukul 08.00.
"Adek, bangun yuk. Kan kita mau berenang."
Adek sebenarnya termasuk anak yang mudah dibangunkan, apalagi jika hari itu ada kegiatan yang menarik. Benar saja, sekali dibangunkan dia langsung membuka mata.
"Yuk, kita cuci muka dan sikat gigi dulu," ajak saya.
Ngulet-ngulet dikit dulu, baru dia turun dari tempat tidur.
"Adek mau sikat gigi sendiri ya, Mama ga usah temenin ya," katanya. Wuidih... gaya bener.
Kebetulan saya memang harus membereskan perlengkapan untuk berangkat berenang, jadi saya biarkan dia masuk kamar mandi sendiri. Tapi sambil saya intip-intip juga tentunya, kali-kali dia butuh bantuan.
Ambil sikat dan pasta gigi, lalu buka keran untuk membasahi sikat giginya. Wah, buka kerannya ga terlalu kencang lagi. Aliran airnya pas. Kemarin dia sudah berhasil mengoleskan pasta gigi dengan ukuran yang tepat, hari ini juga begitu. Sikat gigi depan, belakang, atas, bawah, kumur-kumur, semua sukses dilakukan sendiri. Kalau sikat gigi pagi-pagi memang saya lepas sendiri saja. Setelah selesai kumur-kumur, saya sudah siap-siap mengingatkan dia untuk menutup pasta gigi dan menyimpannya lagi ke tempat semula. Ternyata tanpa perlu saya ingatkan, dia sudah merapikan semuanya. Alhamdulillah, semua tahap dilakukan sendiri tanpa perlu intervensi 😊.
Keluar dari kamar, langsung dia laporan sama Kakak, Abi, dan Mbaknya, "Adek tadi udah bisa sikat gigi sendiri lho, Adek kan udah gede." Hari ini cerita itu mungkin diulang sampai tiga kali, hihihi... Terlihat sekali kalau dia bangga dengan dirinya sendiri.
Tadinya hari ini saya mau menceritakan aktivitas kemandirian yang baru, tetapi pagi ini saya sangat terkesan dengan progress yang ditunjukkan oleh Adek dalam menyikat gigi sendiri. Rasanya saya merasa perlu menambah satu cerita lagi sebagai apresiasi untuk Adek.
Setiap Sabtu pagi, kegiatan Kakak dan Adek adalah kursus berenang. Saya bangunkan Adek ketika jam sudah menunjukkan pukul 7.15 sedangkan jadwal berenang pukul 08.00.
"Adek, bangun yuk. Kan kita mau berenang."
Adek sebenarnya termasuk anak yang mudah dibangunkan, apalagi jika hari itu ada kegiatan yang menarik. Benar saja, sekali dibangunkan dia langsung membuka mata.
"Yuk, kita cuci muka dan sikat gigi dulu," ajak saya.
Ngulet-ngulet dikit dulu, baru dia turun dari tempat tidur.
"Adek mau sikat gigi sendiri ya, Mama ga usah temenin ya," katanya. Wuidih... gaya bener.
Kebetulan saya memang harus membereskan perlengkapan untuk berangkat berenang, jadi saya biarkan dia masuk kamar mandi sendiri. Tapi sambil saya intip-intip juga tentunya, kali-kali dia butuh bantuan.
Ambil sikat dan pasta gigi, lalu buka keran untuk membasahi sikat giginya. Wah, buka kerannya ga terlalu kencang lagi. Aliran airnya pas. Kemarin dia sudah berhasil mengoleskan pasta gigi dengan ukuran yang tepat, hari ini juga begitu. Sikat gigi depan, belakang, atas, bawah, kumur-kumur, semua sukses dilakukan sendiri. Kalau sikat gigi pagi-pagi memang saya lepas sendiri saja. Setelah selesai kumur-kumur, saya sudah siap-siap mengingatkan dia untuk menutup pasta gigi dan menyimpannya lagi ke tempat semula. Ternyata tanpa perlu saya ingatkan, dia sudah merapikan semuanya. Alhamdulillah, semua tahap dilakukan sendiri tanpa perlu intervensi 😊.
Keluar dari kamar, langsung dia laporan sama Kakak, Abi, dan Mbaknya, "Adek tadi udah bisa sikat gigi sendiri lho, Adek kan udah gede." Hari ini cerita itu mungkin diulang sampai tiga kali, hihihi... Terlihat sekali kalau dia bangga dengan dirinya sendiri.
Kamis, 02 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Brush...Brush...Brush Our Teeth (4)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 8
"Adek, semalam ketiduran lagi ya gak gosok gigi," kata saya tadi pagi.
Eh dia nyengir 😬, "Gigi Adek banyak kumannya ya."
"Wah iya tuh, kita usir yuk kumannya," saya ajak dia menyikat gigi sebelum mandi.
Mengambil sikat gigi dan pasta gigi sudah lancar, hanya memang kontrol tangannya untuk membuka-menutup keran dan memencet pasta gigi masih perlu dilatih terus.
"Sekarang kumannya udah pergi belum, Ma?" tanyanya sambil pamer gigi yang sudah disikat.
"Alhamdulillah udah, enak ya kalau udah sikat gigi kumannya kabur."
"Adek, semalam ketiduran lagi ya gak gosok gigi," kata saya tadi pagi.
Eh dia nyengir 😬, "Gigi Adek banyak kumannya ya."
"Wah iya tuh, kita usir yuk kumannya," saya ajak dia menyikat gigi sebelum mandi.
Mengambil sikat gigi dan pasta gigi sudah lancar, hanya memang kontrol tangannya untuk membuka-menutup keran dan memencet pasta gigi masih perlu dilatih terus.
"Sekarang kumannya udah pergi belum, Ma?" tanyanya sambil pamer gigi yang sudah disikat.
"Alhamdulillah udah, enak ya kalau udah sikat gigi kumannya kabur."
Rabu, 01 Mei 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Brush...Brush...Brush Our Teeth (3)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 7
Latihan kemandirian hari ini tertunda 😩. Seharusnya lanjut melatih Adek menyikat gigi sendiri, tapi di dua kesempatan menyikat gigi hari ini belum bisa dipraktekkan.
Karena tadi kami harus berangkat pagi-pagi, supaya cepat kegiatan sikat gigi Adek masih dibantu mulai dari mengambilkan sikat gigi, pasta gigi, hingga membuka dan menutup keran air. Hanya bagian sikat giginya saja yang sendiri karena memang dia yang keukeuh ingin sikat sendiri. Oke lumayanlah ada tahap yang dilakukan sendiri.
Sementara sikat gigi malam hari terpaksa diskip karena.... Adek ketiduran sambil makan kerupuk 😫. Haduuuuh pesta pora deh itu kuman-kuman di mulutnya.
Latihan kemandirian hari ini tertunda 😩. Seharusnya lanjut melatih Adek menyikat gigi sendiri, tapi di dua kesempatan menyikat gigi hari ini belum bisa dipraktekkan.
Karena tadi kami harus berangkat pagi-pagi, supaya cepat kegiatan sikat gigi Adek masih dibantu mulai dari mengambilkan sikat gigi, pasta gigi, hingga membuka dan menutup keran air. Hanya bagian sikat giginya saja yang sendiri karena memang dia yang keukeuh ingin sikat sendiri. Oke lumayanlah ada tahap yang dilakukan sendiri.
Sementara sikat gigi malam hari terpaksa diskip karena.... Adek ketiduran sambil makan kerupuk 😫. Haduuuuh pesta pora deh itu kuman-kuman di mulutnya.
Kegagalan ini tentunya memberikan pelajaran untuk saya sebagai "pelatih". Pertama, dalam melatih kemandirian memang perlu waktu yang longgar dan kesabaran yang tak terbatas. Latihan mandiri tidak bisa diburu-buru. Kalau memang darurat harus buru-buru, ya apa mau dikata harus kompromi dengan keadaan dan menunda latihan. Kedua, seharusnya saya lebih peka menangkap sinyal kalau Adek sebenarnya benar-benar mengantuk. Tadi dia menolak diajak ke kamar dengan alasan ingin makan kerupuk dulu. Saya keasyikan nonton TV hanya beberapa menit, eh suami ngasitau kalau anaknya udah tidur sambil megang kerupuk 😭😭😭. Besok saya harus mempersiapkan lebih matang supaya tidak gagal lagi!
Minggu, 28 April 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Membuat Minum Sendiri (4)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 4
Wah, hari ke-4 Adek latihan membuat minum sendiri. Hari ini saya kembali mengamati dari balik meja saja dan tidak memberikan instruksi kecuali diperlukan.
Karena judulnya membuat teh, jadi yang pertama kepikiran pastinya ngambil teh dulu.
Habis ambil teh, dia bengong mikir. "Oh iya, gelasnya belum."
Posisi gelasnya cukup jauh dari toples gula, wah alamat bakal berantakan lagi nih wkwkwk... Tahan...tahan... jangan komentar dulu.
Robek bungkus tehnya kali ini berhasil, kertas yang menempel di talinya ga ikut robek dan lepas hehe...
"Tumpah-tumpah ya, Ma", katanya melihat butiran-butiran gula berserakan di meja. Lalu dia melap mejanya dari tumpahan gula. Tak lupa menutup kembali toples gulanya (tanpa disuruh) tapi dia lupa membuang bungkus tehnya hihihi.... Saya biarkan saja dulu sampai dia menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah dicelup-celup tehnya dan diaduk-aduk gulanya, dia meminta saya memegang gelasnya agar dia bisa membuang tehnya.
"Kemanisan gak, Dek?" tanya saya mengingat tadi dia memasukkan lebih dari 2 sendok teh gula. "Nggak kok, enak," jawabnya memuji hasil teh bikinannya sendiri 😁. Oke deh terserah Adek aja.
Jadi langkah-langkah membuat teh manis dia sudah pede melakukannya, tinggal masih melatih takaran gula dan air panasnya, juga mengingatkannya untuk membersihkan sisa-sisa sampah. Good job, Adek! Besok kita latihan melakukan aktivitas mandiri yang lain, yaaaa...
Wah, hari ke-4 Adek latihan membuat minum sendiri. Hari ini saya kembali mengamati dari balik meja saja dan tidak memberikan instruksi kecuali diperlukan.
Karena judulnya membuat teh, jadi yang pertama kepikiran pastinya ngambil teh dulu.
![]() |
| Why did you make that funny face, Adek? 😂 |
Lalu celingukan, "Gulanya di mana, Ma?". Karena gula selalu disimpan di lemari yang aman dari semut dan letaknya tidak terjangkau oleh anak-anak, jadi saya ambilkan.
![]() |
| Open the lid with style |
Saya diamkan dulu sampai dia menuang 2 sendok teh gula (takaran normalnya kami kalau membuat teh manis). Ketika dia mau menuang sendok ketiga, saya tanya, "Udah cukup belum gulanya? Nanti kalau kebanyakan bakal kemanisan tehnya." Dia jawab, "Ngga kok, kan Adek mau makan gulanya nanti. Hedeh...modus 😂.
Robek bungkus tehnya kali ini berhasil, kertas yang menempel di talinya ga ikut robek dan lepas hehe...
"Tumpah-tumpah ya, Ma", katanya melihat butiran-butiran gula berserakan di meja. Lalu dia melap mejanya dari tumpahan gula. Tak lupa menutup kembali toples gulanya (tanpa disuruh) tapi dia lupa membuang bungkus tehnya hihihi.... Saya biarkan saja dulu sampai dia menyelesaikan pekerjaannya.
Sudah semakin berani dan lancar menuang air panasnya. Kali ini sudah berani sambil memegang gelas tanpa takut kecipratan. Saya tanya sekarang mau buat es teh atau teh hangat, teh hangat aja katanya. "Udah belum, Ma?" tanyanya beberapa kali sambil menekan tombol air panasnya. Kalau ukuran airnya masih perlu diberitahu.
Setelah dicelup-celup tehnya dan diaduk-aduk gulanya, dia meminta saya memegang gelasnya agar dia bisa membuang tehnya.
Alhamdulillah, selesai membuat teh manis hangat. Tapi sebelum dia minum, saya ajak lagi melihat meja tempat tadi dia melakukan pekerjaannya.
"Adek, coba lihat di meja masih ada yang perlu dibersihkan, gak?"
"Hmmm, masih ada gulanya. Mama aja yang bersihin."
Jiyaaaah, enak aja. "Adek kan tadi yang buat teh, jadi adek bersihin sendiri bekasnya ya."
Dia manut juga akhirnya, membersihkan sisa-sisa butiran gula yang tadi masih tertinggal. Gulanya sudah bersih, tinggal bungkus tehnya masih tergeletak di meja.
"Lalu sekarang apa lagi yang perlu dibuang?"
"Ini!" sambil memegang bungkus teh, lalu dia bergerak ke arah tempat sampah untuk membuangnya.
Oke sip, meja sudah bersih lagi. Saya persilakan dia menikmati haril jerih payahnya. Slurrrrrp....
"Kemanisan gak, Dek?" tanya saya mengingat tadi dia memasukkan lebih dari 2 sendok teh gula. "Nggak kok, enak," jawabnya memuji hasil teh bikinannya sendiri 😁. Oke deh terserah Adek aja.
Jadi langkah-langkah membuat teh manis dia sudah pede melakukannya, tinggal masih melatih takaran gula dan air panasnya, juga mengingatkannya untuk membersihkan sisa-sisa sampah. Good job, Adek! Besok kita latihan melakukan aktivitas mandiri yang lain, yaaaa...
Sabtu, 27 April 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Membuat Minum Sendiri (3)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 3
Setelah dua hari berturut-turut diberi kesempatan untuk membuat teh manis dan Milo sendiri, sepertinya ada yang ketagihan nguprek-nguprek sendiri lagi. Pulang berenang di siang hari yang panas, Adek mengungkapkan keinginannya untuk membuat teh manis sendiri lagi, tetapi kali ini pakai es katanya.
Kalau kemarin-kemarin saya siaga dengan jarak 30 cm di belakangnya (siap-siap nangkep toples gula atau gelas yang jatuh 😬), sekarang saya mengamati dari balik meja saja.
1. Ambil gelas dulu, ah....
2. Pilih tuangin gula duluan ah karena aku seneng nyicip gula. Buka toples sendiri? Cingcay lah sekarang...
8. Ambil air panas dulu... aku udah berani sekarang. (Bagian ini Mama masih ngawasin dari deket)
9. Karena aku pengen es teh manis, jadi ditambahin es sambil dikasitahu Mama kalau udah cukup esnya.
11. Waktu gelasnya dipegang, ternyata belum dingin Ma, jadi aku tambahin lagi ya esnya. (Kali ini Mama diemin sampai esnya habis dipindahin ke gelas semua 😅.
Pada "pelajaran membuat es teh manis" ini, sekalian juga dia belajar berpikir menentukan sendiri berapa banyak gula supaya manisnya cukup dan berapa banyak es supaya teh yang tadinya panas jadi dingin sesuai keinginan.
Setelah dua hari berturut-turut diberi kesempatan untuk membuat teh manis dan Milo sendiri, sepertinya ada yang ketagihan nguprek-nguprek sendiri lagi. Pulang berenang di siang hari yang panas, Adek mengungkapkan keinginannya untuk membuat teh manis sendiri lagi, tetapi kali ini pakai es katanya.
Kalau kemarin-kemarin saya siaga dengan jarak 30 cm di belakangnya (siap-siap nangkep toples gula atau gelas yang jatuh 😬), sekarang saya mengamati dari balik meja saja.
1. Ambil gelas dulu, ah....
2. Pilih tuangin gula duluan ah karena aku seneng nyicip gula. Buka toples sendiri? Cingcay lah sekarang...
3. Sekarang udah pede ambil gulanya ga seiprit-iprit lagi.
4. Whoops, agak kebanyakan. Aku masih belajar ngira-ngira gulanya harus segimana...
5. Buka bungkus tehnya.
6. Wah kertas tehnya robek waktu aku ambil dari bungkusnya, gak apa-apa masih bisa dipegang talinya. (Mama pun menahan diri ga komentar)
7. Eh, lap dulu deh mejanya, ada gula yang berceceran. (Tanpa perlu disuruh, tisunya dia buang sendiri ke tempat sampah)
8. Ambil air panas dulu... aku udah berani sekarang. (Bagian ini Mama masih ngawasin dari deket)
9. Karena aku pengen es teh manis, jadi ditambahin es sambil dikasitahu Mama kalau udah cukup esnya.
10. Aduk-aduk sambil mikir temennya minum teh itu cemilan apa ya yang enak...
11. Waktu gelasnya dipegang, ternyata belum dingin Ma, jadi aku tambahin lagi ya esnya. (Kali ini Mama diemin sampai esnya habis dipindahin ke gelas semua 😅.
Demikian langkah-langkah membuat es teh manis ala Adek. Kali ini saya lebih melonggarkan pengawasan dan mengurangi banyak instruksi karena dia mulai hapal langkah-langkahnya. Hanya bagian seduh air panas saja karena masih berbahaya. Benar saja, ketika air panasnya baru saja dituang, tehnya sudah dia angkat lagi padahal belum lama dicelup. Lalu kantong teh yang baru terendam air panas itu dia pegang 😥 kemudian reflek dia lepas lagi. Alhamdulillah tidak apa-apa, hanya "rasanya panas" katanya.
Jumat, 26 April 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Membuat Minum Sendiri (2)
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 2
Tantangan hari kedua ini masih seputar melatih Adek membuat minum sendiri. Setelah dia bangun pagi, dengan semangatnya saya menawarkan dia minum teh. Eh, ternyata dia belum mau. Waduh, gimana ini Mama ga ada setoran tugas kalau Adek gak bikin teh 😜. Mungkin masih ngumpulin nyawa, saya biarkan dia tidur-tiduran dulu di sofa.
15 menit kemudian.
"Adek sekarang mau minum teh?" saya menawarkan lagi.
Dia menggeleng lagi. Waduh. Saya coba tawarkan yang lain, "Kalau Milo mau?"
Dia mengangguk. Yesss, mama ada bahan setoran tugas, eh maksudnya yesss adek bisa latihan bikin minum sendiri lagi #selfkeplak. Memang beda sih kali ini bukan buat teh lagi, tapi kalau anaknya ga mau ga mungkin dipaksa demi tugas emaknya kan 😁. Setidaknya ada beberapa tahap yang sama antara membuat Milo dan membuat teh manis.
Seperti kemarin, dimulai dengan mengambil gelas. Kali ini dia pilih yang warna biru.
Yak, setelah berbagai posisi, akhirnya sachet Milo berhasil dibuka walaupun lubangnya keciiiil banget. Alhasil nuangnya jadi lama hihihihi.... Buyar ke mana-mana tentunya, tapi dia keasyikan sendiri. Sementara Mama liat jam, wah udah waktunya mandi siap-siap ke kantor ini 😓.
Saatnya mengambil air panas lagi dari dispenser. Karena hari sebelumnya saya melihat dia sudah bisa, jadi kali ini deg-degan saya berkurang dikit.
Alhamdulillah kali ini Adek berhasil menyeduh Milo sendiri, dengan sedikit bantuan saat menggunting sachetnya. Itupun saya bantu karena dia yang meminta. Ketika kita memberikan kepercayaan kepada anak bahwa dia bisa, sangat berpengaruh terhadap performa kemandiriannya ya. Merelakan diri sedikit terlambat berangkat ke kantor but it was worth it. Hmmm...besok kita bikin minum apa lagi ya?
Tantangan hari kedua ini masih seputar melatih Adek membuat minum sendiri. Setelah dia bangun pagi, dengan semangatnya saya menawarkan dia minum teh. Eh, ternyata dia belum mau. Waduh, gimana ini Mama ga ada setoran tugas kalau Adek gak bikin teh 😜. Mungkin masih ngumpulin nyawa, saya biarkan dia tidur-tiduran dulu di sofa.
15 menit kemudian.
"Adek sekarang mau minum teh?" saya menawarkan lagi.
Dia menggeleng lagi. Waduh. Saya coba tawarkan yang lain, "Kalau Milo mau?"
Dia mengangguk. Yesss, mama ada bahan setoran tugas, eh maksudnya yesss adek bisa latihan bikin minum sendiri lagi #selfkeplak. Memang beda sih kali ini bukan buat teh lagi, tapi kalau anaknya ga mau ga mungkin dipaksa demi tugas emaknya kan 😁. Setidaknya ada beberapa tahap yang sama antara membuat Milo dan membuat teh manis.
Seperti kemarin, dimulai dengan mengambil gelas. Kali ini dia pilih yang warna biru.
Lalu buka sachet Milonya dengan bantuan gunting.
![]() |
| Aku coba gunting sendiri |
![]() |
| Hmmm kok susah ya, coba guntingnya pake dua tangan deh. |
![]() |
| Akhirnya Mama bantu pegangin Milonya biar ga lari2 |
Yak, setelah berbagai posisi, akhirnya sachet Milo berhasil dibuka walaupun lubangnya keciiiil banget. Alhasil nuangnya jadi lama hihihihi.... Buyar ke mana-mana tentunya, tapi dia keasyikan sendiri. Sementara Mama liat jam, wah udah waktunya mandi siap-siap ke kantor ini 😓.
![]() |
| Mengeluarkan isinya dengan gigih |
![]() |
| Yang tumpah-tumpah dilap dulu biar mejanya ga disemutin |
![]() |
| Wih udah ahli nih |
![]() |
| Aduk-aduk biar rata |
![]() |
| Cicip dulu, masih panas gak ya? |
Alhamdulillah kali ini Adek berhasil menyeduh Milo sendiri, dengan sedikit bantuan saat menggunting sachetnya. Itupun saya bantu karena dia yang meminta. Ketika kita memberikan kepercayaan kepada anak bahwa dia bisa, sangat berpengaruh terhadap performa kemandiriannya ya. Merelakan diri sedikit terlambat berangkat ke kantor but it was worth it. Hmmm...besok kita bikin minum apa lagi ya?
Kamis, 25 April 2019
[Bunsay-Melatih Kemandirian] Membuat Minum Sendiri
Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 1
Bismillah, selamat datang di Level 2! Topik di Game Level 2 ini adalah "Melatih Kemandirian". Kali ini gantian Adek yang jadi bintang utama 😁. Dengan usianya yang baru tiga tahun, saya pikir akan banyak ruang eksplorasi untuk melatih kemandiriannya dan memang di usianya ini lagi pengen "apa-apa sendiri". Sementara Kakak yang sudah berusia tujuh tahun (eh besok delapan tahun lho dia) alhamdulillah udah banyak mandiri,nanti susah mikirin ide buat bahan setoran tantangan. 😜
Sebelum periode tantangan dimulai, sebenarnya saya sudah punya daftar empat hal yang ingin saya latih untuk kemandirian Adek. Eh kemarin muncul ide lain di luar daftar tersebut ketika si Adek bilang, "Mah, pengen teh."
Hmmm, kenapa nggak disuruh bikin teh manis sendiri aja ya? Selama ini selalu saya buatkan dengan alasan bahaya jika dia mengambil air panas sendiridan nanti gula cepet habis kalau tumpah-tumpah.
"Yuk, kita bikin teh sama-sama," ajak saya.
Sesuai dugaan, dia pasti semangat kalau diajak melakukan sesuatu bersama-sama.
Pertama, saya instruksikan untuk mengambil gelasnya sendiri. Dia memang sudah tahu di mana letak gelasnya dan sudah sering mengambil sendiri, jadi tahap ini lancar jaya.
Ketiga, mengambil teh dan menaruhnya ke dalam gelas. Untuk membuka kotaknya masih saya ajarkan dulu. Lalu dia merobek bungkus tehnya sendiri.
Keempat, bagian paling menegangkan (lebay): mengambil air panas dari dispenser. Kalau mengambil air biasa sih sudah sering sendiri tapi kalau air panas ada tombol safety yang harus ditekan dulu jadi saya ajarkan dulu caranya, baru dia mencoba sendiri. Tak lupa saya ingatkan, "Hati-hati ya, airnya jangan sampai kena tangan karena panas."
Alhamdulillah sukses! Lanjut dengan campuran air biasa.
Kelima, tinggal aduk-aduk deh.
Voila, teh manis buatan Adek sudah siap diminum!
Yay, Adek berhasil membuat teh manis sendiri dengan sedikit instruksi dan supervisi Mama. Saya sejujurnya gak menyangka Adek sudah bisa mengambil air panas dengan hati-hati. Enjoy your cup of tea, Dek!
Bismillah, selamat datang di Level 2! Topik di Game Level 2 ini adalah "Melatih Kemandirian". Kali ini gantian Adek yang jadi bintang utama 😁. Dengan usianya yang baru tiga tahun, saya pikir akan banyak ruang eksplorasi untuk melatih kemandiriannya dan memang di usianya ini lagi pengen "apa-apa sendiri". Sementara Kakak yang sudah berusia tujuh tahun (eh besok delapan tahun lho dia) alhamdulillah udah banyak mandiri,
Sebelum periode tantangan dimulai, sebenarnya saya sudah punya daftar empat hal yang ingin saya latih untuk kemandirian Adek. Eh kemarin muncul ide lain di luar daftar tersebut ketika si Adek bilang, "Mah, pengen teh."
Hmmm, kenapa nggak disuruh bikin teh manis sendiri aja ya? Selama ini selalu saya buatkan dengan alasan bahaya jika dia mengambil air panas sendiri
Sesuai dugaan, dia pasti semangat kalau diajak melakukan sesuatu bersama-sama.
Pertama, saya instruksikan untuk mengambil gelasnya sendiri. Dia memang sudah tahu di mana letak gelasnya dan sudah sering mengambil sendiri, jadi tahap ini lancar jaya.
Kedua, menuangkan gula dengan sendok. Mulai dari membuka toples, menyendok gula lalu menuangkan ke gelas, sampai menutup kembali toplesnya. Untuk takaran gula masih saya instruksikan.
Ketiga, mengambil teh dan menaruhnya ke dalam gelas. Untuk membuka kotaknya masih saya ajarkan dulu. Lalu dia merobek bungkus tehnya sendiri.
Keempat, bagian paling menegangkan (lebay): mengambil air panas dari dispenser. Kalau mengambil air biasa sih sudah sering sendiri tapi kalau air panas ada tombol safety yang harus ditekan dulu jadi saya ajarkan dulu caranya, baru dia mencoba sendiri. Tak lupa saya ingatkan, "Hati-hati ya, airnya jangan sampai kena tangan karena panas."
Alhamdulillah sukses! Lanjut dengan campuran air biasa.
Kelima, tinggal aduk-aduk deh.
Voila, teh manis buatan Adek sudah siap diminum!
![]() |
| Adudududuh panas! (Disclaimer: ekspresinya cuma akting kok, gak panas beneran) |
Yay, Adek berhasil membuat teh manis sendiri dengan sedikit instruksi dan supervisi Mama. Saya sejujurnya gak menyangka Adek sudah bisa mengambil air panas dengan hati-hati. Enjoy your cup of tea, Dek!
PS: Beberapa menit setelah foto ini, gelasnya kesenggol dan tehnya tumpah semua 😅. Dia langsung menangis histeris dan bilang, "Mau teh lagiiiii...". Mungkin karena bikin sendiri jadi lebih kerasa nyeseknya kalau tumpah ya. Jadi bikin teh lagi deh dia, tetep maunya sendiri dan alhamdulillah lancar seperti trial yang pertama 👍.
Langganan:
Postingan (Atom)















































