Tampilkan postingan dengan label Hari 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari 4. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 September 2019

[Bunsay-Matematika Logis] Panjang-Pendek dan Mengelompokkan Warna

Game Level 6 - Hari 4

Awalnya saya berniat mengajak Adek belajar konsep panjang-pendek menggunakan board strip dari Addition Board punya Kakak. Gak punya Red Rods ala Montessori yang populer dipakai buat belajar panjang-pendek soalnya, jadi pakai yang ada aja 😛.

Mulai dari tiga tongkat aja dulu untuk menunjukkan mana yang panjang, lebih panjang, paling panjang. Sebelumnya kalau membandingkan antara dua tongkat, Adek sudah bisa membandingkan mana yang pendek dan panjang. Kalau tiga tongkat begini masih menantang untuk dia.  Ketika saya minta dia mengurutkan panjang-lebih panjang-paling panjang, tampaknya masih bingung dan semau-maunya walaupun udah dicontohin 😁.

Baiklah.... kalau gitu ganti dulu sorting warna aja. Kebetulan di addition board ini ada 3 warna, yaitu merah, biru, dan coklat. Kalau disuruh sorting warna sih lancar jaya.... Pas sorting warna, urutan pendek-panjangnya malah betul 😆.

Sambil boboan karena udah ngantuk 😃



Minggu, 11 Agustus 2019

[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 4



Hari ini Adek dibacakan dua buku: Angka-Angka dalam AlQuran dan Seri Allah Selalu Ada Untukku: Allah Ciptakan Tubuhku. Di buku pertama, Adek belajar berhitung dan tracing angka 1-10. Untuk menghubungkan cerita di balik angka-angka yang disebutkan dalam Al-Quran itu saya masih bingung bagaimana cara memberikan penjelasan yang dimengerti oleh Adek 😅. Sepertinya nanti harus balik lagi ke buku itu supaya pesannya sampai - bukan sekedar menghitung 1-10.

Buku kedua lebih mudah membacakannya karena selain banyak gambar yang bisa dia tebak maksudnya, juga relatable dengan bagian-bagian tubuh yang secara konkret dapat dia lihat dan pegang sendiri. Isi bukunya kurang lebih mengarahkan kita untuk memahami bahwa fungsi-fungsi tubuh yang kita miliki diciptakan oleh Allah, dan sebagai rasa syukur kita harus memanfaatkannya untuk beribadah kepada Allah dan melakukan hal-hal baik. Belum tahu sih Adek paham gak maksudnya, tetapi semoga cerita tadi bisa sebagai sounding untuk alam bawah sadarnya.

Kakak gimana? Hari ini lagi gak mood baca katanya. Setelah ketemuan dengan sepupunya dan naik sepeda dengan Abi, di rumah pengennya menggambar. Baiklah, kakak....

Minggu, 28 April 2019

[Bunsay-Melatih Kemandirian] Membuat Minum Sendiri (4)

Game Level 2 - Melatih Kemandirian - Hari 4

Wah, hari ke-4 Adek latihan membuat minum sendiri. Hari ini saya kembali mengamati dari balik meja saja dan tidak memberikan instruksi kecuali diperlukan.

Karena judulnya membuat teh, jadi yang pertama kepikiran pastinya ngambil teh dulu.


Why did you make that funny face, Adek? 😂
 Habis ambil teh, dia bengong mikir. "Oh iya, gelasnya belum."


Lalu celingukan, "Gulanya di mana, Ma?". Karena gula selalu disimpan di lemari yang aman dari semut dan letaknya tidak terjangkau oleh anak-anak, jadi saya ambilkan.

Open the lid with style
Posisi gelasnya cukup jauh dari toples gula, wah alamat bakal berantakan lagi nih wkwkwk... Tahan...tahan... jangan komentar dulu.


Saya diamkan dulu sampai dia menuang 2 sendok teh gula (takaran normalnya kami kalau membuat teh manis). Ketika dia mau menuang sendok ketiga, saya tanya, "Udah cukup belum gulanya? Nanti kalau kebanyakan bakal kemanisan tehnya." Dia jawab, "Ngga kok, kan Adek mau makan gulanya nanti. Hedeh...modus 😂.


Robek bungkus tehnya kali ini berhasil, kertas yang menempel di talinya ga ikut robek dan lepas hehe...

"Tumpah-tumpah ya, Ma", katanya melihat butiran-butiran gula berserakan di meja. Lalu dia melap mejanya dari tumpahan gula. Tak lupa menutup kembali toples gulanya (tanpa disuruh) tapi dia lupa membuang bungkus tehnya hihihi.... Saya biarkan saja dulu sampai dia menyelesaikan pekerjaannya.


Sudah semakin berani dan lancar menuang air panasnya. Kali ini sudah berani sambil memegang gelas tanpa takut kecipratan. Saya tanya sekarang mau buat es teh atau teh hangat, teh hangat aja katanya. "Udah belum, Ma?" tanyanya beberapa kali sambil menekan tombol air panasnya. Kalau ukuran airnya masih perlu diberitahu. 



Setelah dicelup-celup tehnya dan diaduk-aduk gulanya, dia meminta saya memegang gelasnya agar dia bisa membuang tehnya.


Alhamdulillah, selesai membuat teh manis hangat. Tapi sebelum dia minum, saya ajak lagi melihat meja tempat tadi dia melakukan pekerjaannya. 
"Adek, coba lihat di meja masih ada yang perlu dibersihkan, gak?" 
"Hmmm, masih ada gulanya. Mama aja yang bersihin."
Jiyaaaah, enak aja. "Adek kan tadi yang buat teh, jadi adek bersihin sendiri bekasnya ya."
Dia manut juga akhirnya, membersihkan sisa-sisa butiran gula yang tadi masih tertinggal. Gulanya sudah bersih, tinggal bungkus tehnya masih tergeletak di meja. 
"Lalu sekarang apa lagi yang perlu dibuang?"
"Ini!" sambil memegang bungkus teh, lalu dia bergerak ke arah tempat sampah untuk membuangnya.

Oke sip, meja sudah bersih lagi. Saya persilakan dia menikmati haril jerih payahnya. Slurrrrrp....


"Kemanisan gak, Dek?" tanya saya mengingat tadi dia memasukkan lebih dari 2 sendok teh gula. "Nggak kok, enak," jawabnya memuji hasil teh bikinannya sendiri 😁. Oke deh terserah Adek aja.
Jadi langkah-langkah membuat teh manis dia sudah pede melakukannya, tinggal masih melatih takaran gula dan air panasnya, juga mengingatkannya untuk membersihkan sisa-sisa sampah. Good job, Adek! Besok kita latihan melakukan aktivitas mandiri yang lain, yaaaa...