Kamis, 05 September 2019

[Bunsay-Matematika Logis] Menghitung Waktu

Game Level 6 - Hari 2

Apparatus Montessori disimpan dulu, sekarang Kakak dan Adek belajar matematika dari lomba lari aja dulu. Permainannya, berapa detik yang dibutuhkan untuk lari dari pintu depan ke pintu belakang?

Berhubung Adek ga mau lomba bareng Kakak (takut kalah soalnya 😂), jadi larinya sendiri-sendiri lalu dibandingkan berapa detik antara Kakak dan Adek.

Pertama giliran Kakak, ini hasilnya. 2,98 detik. Harap maklum, rumah kami mungul jadi deket banget jarak antara pintu depan dan belakang 😁.


Ini hasil Adek. 4,18 detik. Tampaknya Adek belum paham kalau 4 detik lebih lama dari 2 detik (practically Kakak yang menang) jadi dia santuy aja, girang bisa lari 4 detik 😁. 

Selanjutnya, saya menantang mereka untuk lari lebih cepat mengalahkan waktu mereka sendiri. Kakak berhasil memecahkan rekornya sendiri, 2,91 detik.


Hasil Adek, jadi 4,34 detik hihihi...


Lalu Kakak pengen eksperimen, "Kalau aku larinya kaya sloth gimana ya?" Technically, sloth doesn't run, tapi saya ngerti lah maksudnya lari slow motion gitu 🤣. Waktunya 22 detik ternyata kalau lari ala sloth.


Belajar memahami konsep waktu sambil olahraga malam. Lebih penting lagi, mereka happy!






Rabu, 04 September 2019

[Bunsay-Matematika Logis] Pink Tower

Game Level 6 - Hari 1

Materi di Level 6 adalah tentang menstimulasi kecerdasan matematika logis. Sejak mengikuti Training Montessori 2 tahun lalu, saya mulai paham bahwa matematika itu bukan hanya mengerjakan soal berhitung dan bergulat dengan rumus-rumus memusingkan. Belajar matematika adalah melatih logika, sesederhana membedakan besar-kecil, panjang-pendek, banyak-sedikit, hitam-putih. Jadi betapa senangnya saya di Game Level 6 ini hasil belajar saya dari Training Montessori bisa sangat bermanfaat.

Hari pertama dimulai dengan Adek bekerja menggunakan apparatus paling populer di dunia Montessori: The Pink Tower *bagi saya sih, soalnya warnanya pink 😂. Belajar matematika bisa dengan cara menyusun balok-balok menjadi menara, lho! Balok-balok ini harusnya berjumlah 10 buah, tapi sayangnya balok paling kecil lagi nyelip entah ke mana jadi tinggal 9 buah 😅.

Voila! Menaraku jadi!
Untuk menjadi menara seperti ini, Adek masih dipandu oleh saya. Kalau tidak dipandu, urutan baloknya semau-maunya dia aja jadi asimetris 😬. Sebenarnya yang lebih penting bukan masalah menaranya simetris atau tidak, tapi dalam proses menyusun ini, Adek harus membandingkan mana balok yang lebih besar atau kecil di antara yang lainnya. Pertama saya bertanya ke Adek mana balok paling besar? Kadang langsung benar, kadang salah juga. Kalau salah, saya tanya lagi jika balok yang dia pilih dibandingkan dengan balok yang benar, lebih besar mana? Jadi Adek belajar konsep besar dan kecil. Dengan membanding-bandingkan dua balok seperti itu, akhirnya jadi deh menara yang berurutan dari balok paling besar hingga paling kecil.
Membandingkan dua balok, mana yang lebih besar?


Setelah jadi, jumlah baloknya dihitung: 1, 2, 3, ......, 9.  Sekarang Adek pengen bikin menara desainnya sendiri. Bebaskeunlah!
Desain 1

Desain 2
Bikin menara ngacak gitu, apa cuma biar Adek seneng aja? Ternyata membuat menara yang secara kasat mata ga beraturan ini ada proses belajarnya juga lho. Membuatnya menaranya bisa tegap berdiri begini harus lewat proses trial and error dulu, alias pada berjatuhan dulu baloknya. Misal ketika balok kecil langsung ditindih oleh balok paling besar, ya pasti roboh lah ya. Ketika roboh, Adek mencoba kombinasi balok-balok yang lain lagi, sampai jadi deh dua jenis desain seperti di atas. Secara tidak sadar, Adek sudah belajar mengukur kombinasi balok seperti apa yang bisa membuat menaranya tegap juga. Hmmm udah cocok jadi ahli teknik sipil, Dek! #mamaambisius


Rabu, 28 Agustus 2019

[Bunsay-Aliran Rasa] Membaca Membuka Cakrawala

Perkembangan teknologi telah membawa kita ke era digital. Data, transaksi keuangan, musik, sampai buku pun sudah terdigitalisasi. Apakah membaca buku digital adalah sesuatu yang buruk? Di satu sisi, kita dapat menghemat kertas dan ruang karena tidak lagi menggunakan fisik buku. Di sisi lain, pakar menyarankan untuk menghindari buku digital karena paparan sinar biru dari layar gadget dapat merusak kesehatan mata.

Anyway, saya masih menyukai interaksi dengan buku konvensional, melalui bau kertasnya dan suara gesekan lembar-lembarnya. Untuk anak-anak pun saya masih membelikan buku konvensional sampai rak bukunya penuh. Sambil membaca atau dibacakan, anak-anak terstimulasi motorik halusnya melalui gerakan membuka lembaran buku dan rabaan permukaan sampul dan halaman kertasnya. Tetapi saya tidak memungkiri bahwa di masa depan nanti mungkin posisi buku konvensional akan terganti sepenuhnya dengan buku digital. Teknologi berubah, manusia pun beradaptasi. Mungkin saja nanti tubuh manusia akan ikut berevolusi karena adaptasinya menghadapi layar gawai 24/7.

Apapun bentuknya, saya hanya ingin anak-anak saya memiliki kemampuan literasi yang baik. Kakak yang dominan auditori, di usia SD ini masih lebih suka read aloud dengan Mamanya. Kadang (iya kadang, gak selalu) setelah membaca saya "mengetes" pemahaman Kakak akan buku yang dibacanya melalui pertanyaan 5W1H. Adek, yang belum bisa membaca, masih suka dibacakan buku yang bergambar dan ada aktivitasnya. Sebagai anak-anak perempuan, buku-buku kesukaan mereka tidak jauh-jauh dari princess 😀. Tetapi saya baru amati akhir-akhir ini Kakak cukup antusias dengan buku-buku tentang hewan.

Bagaimana dengan saya sendiri? Kalau untuk menghadapi tantangan 10 hari ini, saya mengaku kalah. Waktu untuk membaca buku masih kalah dengan membaca HP 😰😰😰. Tapi untuk jangka panjang, saya tidak boleh kalah lagi dong. Bagaimana saya bisa menarik minat anak-anak untuk membaca jika mereka melihat Mamanya sendiri lebih sering pegang HP daripada buku?

Dengan berakhirnya game level 5 ini, bukan berarti tantangan saya berakhir. Di tengah-tengah gempuran Disney junior, Youtube, dan Netflix ini, tantangan orang tua jaman sekarang lebih besar untuk menjaga minat baca anak-anak. Semoga pohon yang tertempel di pintu kamar anak-anak ini akan bertambah rimbun.

Sabtu, 17 Agustus 2019

[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 10

Dirgahayu Republik Indonesia!

Tema HUT Kemerdekaan RI ke-74 ini adalah SDM Unggul Indonesia Maju. Dalam rangka mencetak SDM unggul, mari kita ajak anak-anak kita (dan diri kita sendiri) untuk membaca. Sekalipun buku-buku yang dibaca hari ini gak nyambung dengan hari kemerdekaan sih 😅.

Hari ini buku-buku yang dipilih Adek masih mengulang dari hari-hari sebelumnya. Ada Seri Pull Push Slide yang judulnya Busy Garden dan Wiffy Wilson tentang serigala yang tidak mau sekolah. Setelah 3 pekan mogok sekolah, Jumat kemarin akhirnya Adek mau sekolah lho karena ada lomba tujuhbelasan. Membaca Wiffy Wilson tentang asiknya sekolah karena banyak teman-teman dan kegiatan bermain semoga memotivasi Adek untuk mau sekolah lagi hari Senin nanti.

Ada satu buku yang baru dibaca lagi selama periode tantangan ini, yaitu Putri Alia dan Bola-Bola Coklat. Cocok nih, ceritanya tentang seorang putri yang tidak mau membagi bola-bola coklat dengan kakaknya dan tidak menggosok gigi sebelum tidur hingga keesokan paginya sang putri bangun dengan pipi bengkak. Sebagai anak pada usia egosentris, Adek kadang-kadang suka merebut dan tidak mau membagi makanan atau barangnya dengan Kakak. Ketika membacakan cerita ini, saya menyelipkan pesan personal kepada Adek, "Kalau punya makanan, Adek mau bagi-bagi ke Kakak ya. Kan Kakak juga baik suka bagi makanan ke Adek." Tadi sih dia ngangguk-ngangguk, semoga nanti pas punya makanan masih inget sama cerita Putri Alia 😃.

Jumat, 16 Agustus 2019

[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 9


Senangnya hari ini sudah di rumah lagi. Sebelum tidur, saya sempat membacakan Adek satu buku, masih dari seri Push Pull Slide yang judulnya "Busy Swimming". Untuk bocah yang hobi belajar berenang, buku ini relatable banget. Lihat gambar seorang anak yang pakai ban lengan, saya mengingatkan Adek kalau dulu pun dia memakai itu. Dengan belajar berenang, sekarang bisa "upgrade" pakai swimming board dan lepas ban. Kalau terus belajar, nanti bisa lepas board seperti kakak-kakak di buku ini. Selesai baca, dia jadi terinspirasi untuk request berenang besok pagi 😁.

Kamis, 15 Agustus 2019

[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 8

Kakak hari ini membaca buku di perpustakaan sekolah yang berjudul "Keluarga Nisa Berlibur". Ceritanya tentang Nisa dan kedua orang tuanya yang berlibur ke rumah nenek di Bandung. Nisa senang sekali di rumah nenek karena dibelikan baju baru. Mirip dengan pengalaman Kakak katanya, karena kami juga memiliki nenek di Bandung dan suka membelikan baju 😁.

Saya masih meneruskan membaca buku Atomic Habits, bab tentang melekatkan kebiasaan baik baru dengan kebiasaan lama. Misalnya kita terbiasa membuka HP ketika bangun tidur lalu kita ingin menanamkan kebiasaan baru beryoga ketika bangun tidur. Katakan kepada diri kita "saya akan membuka HP setelah beryoga". Simpel sih ya, tinggal mulai prakteknya 😁.

Rabu, 14 Agustus 2019

[Bunsay-Pohon Literasi] Hari 7

Hasil gambar untuk fourth industrial revolution schwab

Lagi-lagi di tengah-tengah periode tantangan saya harus dinas luar kota meninggalkan anak-anak 😞. Sebelum pergi, saya sudah berpesan agar Kakak menceritakan buku yang dia dan Adek baca. Tapi laporan belum juga masuk 😅, ya sudah giliran Mamanya saja yang setor di hari ke-7. Kebetulan buku ini sudah lama dibaca dalam rangka tugas kantor, tetapi sangat relevan dengan kehidupan generasi yang hidup di masa sekarang. "The Fourth Industrial Revolution" menceritakan fenomena revolusi industri keempat yang dipicu oleh teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan, data raksasa, internet of things, dan robotik. Teknologi ini tidak hanya merevolusi cara kerja industri, tetapi juga mengubah model bisnis di sektor jasa dan finansial, mengubah komposisi tenaga kerja di masa depan, dan semakin menghilangkan batas negara secara virtual. Buku ini menggambarkan dunia macam apa yang akan dihadapi oleh anak-anak kita di masa depan dan menantang kita untuk memikirkan strategi mempersiapkan mereka.