Rabu, 10 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Kakak Tabrakan!

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 14

"Assalamu'alaikum," sapa saya kepada anak-anak ketika pulang dari kantor tadi.

"Wa'alaikumsalaaaaam," jawab anak-anak ceria menyambut Mamanya yang abis kerja bagai qudha 🐎.

Saya masuk rumah lalu mengeluarkan belanjaan dari Alfamart tadi. Kebetulan tissue basah dan roti habis, eh terus malah nambah belanjaan cemilan 🙈. Sambil membereskan belanjaan, saya mengobrol dengan anak-anak. Saya lihat rambut kakak masih basah seperti baru selesai mandi.

"Kakak baru selesai mandi?"

"Iya, tadi aku kan habis main sepeda."

Lalu Kakak lanjut cerita.

"Mama tadi aku habis....nangis."

Saya langsung berhenti beres-beres, mengarahkan badan saya ke Kakak dan menatap wajahnya.

"Kenapa, Kak?" tanya saya khawatir tapi tetap dengan nada pelan.

"Aku habis jatuh di sekolah. Pipiku ini tadinya merah."

Saya lihat pipinya sudah tidak merah dan tidak ada tanda-tanda bengkak juga. Alhamdulillah.

"Jatuh kenapa?"

"Tadi aku kan lari terus ada Ken juga lari terus kita tabrakan. Aku langsung nangis."

"Ooooh, Kakak sakit ya? Sekarang masih sakit?" saya mencoba BEREMPATI

"Udah ngga tapi kakiku memar sedikit," sambil menunjukkan kakinya. Lalu dia memeluk saya.

"Alhamdulillah kalau udah nggak sakit. Kalau habis terbentur memang bakal memar tapi nanti insya Allah sembuh sendiri ya. Kakak nanti hati-hati ya." hibur saya sambil balas memeluknya.

"Iya Ma. Kakak makan dulu ya."

Kakak mulai makan malam bersama Adik (mereka memang biasa makan malam sebelum Maghrib), saya pun melanjutkan beres-beres belanjaan.

Saya menyadari tadi bahwa empati itu tidak cukup ditunjukkan hanya dengan kalimat, "sakit ya?", "sedih ya?", atau "senang ya?". Bahasa tubuh pun harus mendukung. Tunjukkan perhatian dengan menghentikan kegiatan yang kita lakukan, mendekat ke arahnya, tatap matanya, dan arahkan juga seluruh tubuh kita menghadapnya. Komunikasi produktif itu terjadi bukan hanya ketika kita berbicara, tetapi juga ketika kita mendengarkan. Mendengarkan itu bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan seluruh anggota tubuh kita.




Selasa, 09 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Bermain Ada Waktunya

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 13

Efek dari kemarin saya mendapati Kakak masih bermain hingga pukul 17.30, saya merasa harus menegaskan lagi tentang waktu bermainnya. Pagi tadi sebelum Kakak berangkat sekolah, sambil menemaninya sarapan saya MENYAMPAIKAN APA YANG SAYA INGINKAN, BUKAN YANG TIDAK SAYA INGINKAN.

"Kakak boleh main kalau udah pulang sekolah, tapi Mama pengen Kakak selesai main jam 5 supaya Kakak bisa tepat waktu mandi dan sholat Maghrib."

"Iya Ma."

"Sebelum main juga Sholat Ashar dulu ya."

"Iya."

"Jadi mainnya boleh sampai jam berapa?" tanya saya sambil ngetes.

"Jam 5."

Jawabannya pendek-pendek gini didengerin ga sih? Tapi saya menahan diri untuk tidak melanjutkan lagi karena ntar jatohnya ngomel dan bawel deh 😓.

💗💗💗💗💗

Tadi sore saya pulang di jam yang sama seperti kemarin. Turun dari Go-jek, saya melihat ke lapangan depan rumah. Alhamdulillah, ga ada Kakak berarti dia udah di rumah.

Saya mengetuk pintu, lalu dibukakan oleh Kakak yang sudah mandi dan rapi dengan piyamanya.

"Kakak tadi main ke luar?"

"Iya, sampai jam 5," langsung laporan 😏. "Aku tadi naik sepeda sama Adik. Pas aku lurus dikira Mbak aku mau belok...." lanjut cerita.

Alhamdulillah, keinginan yang saya sampaikan tadi pagi ternyata memang didengarkan dan dituruti oleh Kakak. Semoga di hari-hari berikutnya dia tetap ingat dengan batas waktu bermainnya.

Senin, 08 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Antara Sholat dan Makan

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 12

Karena keasyikan main di luar sampai pukul 17.30, kakak baru mandi sore menjelang waktunya Sholat Maghrib. Benar saja, selesai dia mandi, berkumandanglah adzan Maghrib.

Saya tadinya ingin menyuruh Kakak dulu sholat dulu baru makan malam, tapi saya coba untuk GANTI KATA MEMERINTAH DENGAN MEMBERIKAN PILIHAN.

"Kakak, udah adzan Maghrib. Lebih baik sholat atau makan dulu ya?"

"Makan." Mantap bener jawabnya, udah laper kayanya.

"Kalau gitu Kakak makannya ga boleh sambil main supaya cepat selesai. Kalau Kakak sholat dulu, makannya bisa lebih santai."

Dia meneruskan berpakaian sambil berpikir. Saya biarkan dulu karena saya sedang bersiap-siap berbuka puasa.

10 menit kemudian, loh kok ga keluar-keluar kamar ya. Kirain mau ambil makan. Ketika saya hampiri kamarnya, ya ampun ternyata dia malah lagi rekam dirinya sendiri sedang bercerita ala-ala vlogger.

"Ehem, Kakak belum makan? Tadi katanya mau makan dulu. Kalau belum makan, ya sekarang sholat dulu aja." Saya berupaya BERBICARA DENGAN INTONASI RENDAH. Padahal dalam hati mah gemes.

"Hehe iya Ma aku lagi bikin vlog."

Akhirnya dia sholat dulu baru makan. Tapi pakai intermezzo ngevlog dulu 🙈🙈🙈.

Minggu, 07 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Berenang Jilid Dua

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 11

Ingat postingan saya tentang Kakak yang belajar berenang di Tantangan Hari ke-4? Saat itu Kakak masih belum berani meluncur tanpa board ke tengah kolam yang dangkal sekalipun.

Nah, sepekan kemudian atau kemarin lebih tepatnya, seperti biasa kita berenang lagi. Dia masih coba meluncur tanpa board tapi tangannya sambil menggapai dinding kolam. Hmmm... coba saya tantang lagi, ah.

"Kakak, sini meluncurnya ke Mama."

Mukanya memelas lagi, "Gak bisa aku takut."

"Bisa, Kak. Kalau Kakak pengen ambil napas, Kakak tinggal berdiri kan kolamnya pendek." GANTI KATA TIDAK BISA MENJADI BISA.

Walaupun masih ragu-ragu, dia akhirnya mau juga mencoba meluncur ke tengah ke arah saya. Meluncur sekali lalu berhenti. Lanjut meluncur lagi, berhenti lagi. Sampai meluncur yang ketiga kalinya baru dia berhasil meraih tangan saya.

"Alhamdulillah, Kakak bisa kan berenang ke tengah." BERI PUJIAN DENGAN JELAS.

Dia tersenyum, sepertinya tidak menyangka kalau dia ternyata bisa. Walaupun jaraknya masih pendek-pendek, tapi Kakak sudah menunjukkan perkembangan positif dengan berani mencoba. Semoga nanti makin berani ya, Kak!

Sabtu, 06 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Medan Perang Mama

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 10

Di postingan kali ini mungkin saya akan lebih banyak bercerita tentang diri saya sendiri - walaupun tetap berkaitan dengan komunikasi produktif saya dengan Kakak.

Bagi saya dan mungkin semua ibu-ibu di muka bumi ini, akhir pekan sama melelahkannya dengan hari-hari kerja. Setiap Sabtu pagi, saya harus mengantar Kakak dan Adik berenang (kalau sedang tidak haid, saya ikut berenang juga). Membangunkan anak-anak bukan hal yang sulit, apalagi Kakak terbiasa bangun Subuh walaupun libur. Menyuruh mereka (termasuk suami) bersiap-siap pergi adalah medan perang pertama saya di hari Sabtu 😅.
"Kakak, Adik, siap-siap ya kita berangkat berenang jam 8."
Alhamdulillah ada Mbak yang sigap membantu menyiapkan anak-anak, kali ini tidak ada drama harus naikin oktaf.

Eh tapi, sang suami masih aja tidur waktu saya lihat ke kamar.
"Hun, ayo udah jam 8."
"Kalian berangkat aja dulu sekarang"

😓😓😓😓

Saya bete berat deh. Kalau soal kemampuan sih saya mampu aja antar anak-anak sendiri, tapi kan kalau libur gini pengennya berangkat lengkap yah.

"Maksudnya gimana?"
"Kamu berangkat dulu bawa mobil sama anak-anak. Nanti aku nyusul ke sana."
Saya gak bisa nahan untuk gak ngomong ketus (😭😭), "Ya udah kunci mobil sama STNK mana?"

Gagal komunikasi produktif deh.

💖💖💖💖💖

Tahu dong rasanya habis berenang itu enaknya tidur, tetapi mulai pekan ini Kakak ada les piano di siang harinya. Jadi tidur siang harus saya coret dari jadwal Sabtu. Mood dari pagi yang udah gak enak dikombinasikan dengan rasa ngantuk dan lelah, wow kalau disenggol bisa jadi Tiger Mama nih. Tapi kegagalan komprod pagi tadi memacu saya untuk mencegah kegagalan-kegagalan lain, setidaknya untuk hari ini.

Waktunya Sholat Ashar, seperti biasa saya bertugas sebagai alarm yang berbunyi untuk mengingatkan Kakak.

"Kak, udah waktunya Sholat Ashar, jangan lupa sholat ya."

"Iya, Ma."

Tapi Kakak tetap ga beranjak dari kamarnya.

5 menit kemudian.

"Kakak, mau sholat jam berapa?" TETAP MENJAGA INTONASI JANGAN SAMPAI NAIK.

"Iya, Ma bentar lagi."

5 menit kemudian, alhamdulillah Kakak bergerak juga ke kamar mandi untuk berwudhu. One victory for today!

Setelah sholat, waktunya mandi sore. Sudah mendekat ke kamar mandi dan lepas baju, Kakak main-main dulu dengan melempar-lempar baju kotornya 🙎.
"Lihat, Dek! Kakak bisa nangkep bajunya dong."

Saya tepok jidat aja deh. Oke, biarin dulu main bentar. 1 menit, 2 menit, kok belum selesai juga.
"Kakak kapan mau mandinya?" MASIH MENJAGA INTONASI DI OKTAF PERTAMA.

"Iya, iya, Ma." Setelah lempar tangkap dua kali, baru masuk kamar mandi. Bebas lah kak, bebaaaas.

Selesai mandi, eh ternyata dia lupa bawa handuknya ke dalam kamar mandi, jadi dengan kondisi badan basah dia jalan ke jemuran handuk. Selain badannya yang basah, tentunya keset kering dan lantai kamar saya jadi basah juga dong. Padahal di dalam kamar mandi ada juga keset khusus yang daya serap airnya tinggi, tapi dilewat sama dia.

Ingat, Mama, gak usah marah-marah. FOKUS PADA MASA DEPAN, BUKAN MASA LALU.

"Kakak, nanti ingat bawa handuknya dulu sebelum mandi. Terus kalau udah selesai mandi, keringin dulu kakinya di keset yang dalam kamar mandi supaya keset luar ini gak basah. Keset yang ini gak nyerep air soalnya." TETEP JAGA INTONASI.

"Oke, Ma." Dih, pendek amat jawabnya 😹.

Setelah itu, saya amazed sama diri sendiri. Wow ternyata saya bisa juga mengurangi frekuensi ngomel-ngomel dengan cobaan-cobaan penguji kesabaran yang datang beruntun selama satu hari ini 😬. Di medan perang ini, saya berperang dengan nafsu amarah diri sendiri yang seringkali tidak terkontrol. Walaupun belum 100% berhasil, boleh lah saya beri apresiasi diri saya sendiri yang merasa sudah ada perkembangan positif sejak masuk Kelas Bunsay 👏👏👏.




Jumat, 05 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Muroja'ah

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 9

Sejak menjadi siswi di sekolah Islam, Kakak Ey dibimbing oleh Ustadz untuk menghapalkan surat-surat juz 30, dimulai dari An-Naba. Mamanya udah kalah telak nih. Ayo dong Mama, malu sama anaknya 😞.

Anyway, di kelas 2 term 4 ini hapalannya sudah sampai Surat Al-Muthaffifin. Tadi sebelum waktunya tidur, saya sempatkan untuk mendampingi Kakak muroja'ah.

"Kak, Al-Muthaffifin udah sampai ayat berapa?"

"Udah selesai, Mah. Tapi aku masih ada yang gak hapal."

"Hmm...36 ayat ya."

"Iya tapi aku baru hapal sampai ayat 34."

"Gak apa-apa, nanti Mama bantu kasih tau kalau ada yang lupa."

Kakak membacakan Surat Al-Muthaffifin dengan relatif lancar. Ada beberapa potongan ayat yang lupa, tapi ketika saya pancing dengan satu kata, dia bisa melanjutkan lagi. Wah, ternyata bisa selesai sampai ayat 36!

"Alhamdulillah, Kakak sudah hapal Al-Muthaffifin sampai ayat 36, besok kita ulang terus supaya lebih lancar ya."

BERIKAN PUJIAN DENGAN JELAS. Tidak perlu lebay dengan embel-embel hebat, keren, dll yang takutnya malah membuat Kakak haus pujian. Semoga Kakak kelak paham bahwa menghapal ayat-ayat Allah adalah demi menjadi Shahibul Quran, mengangkat derajat Kakak sendiri di dunia dan di akherat; bukan agar dipuji oleh manusia.

Kamis, 04 April 2019

[Bunsay-Komunikasi Produktif] Kakak yang Sedang Sedih

Game Level 1 - Komunikasi Produktif - Hari 8

Ketika sore tadi saya sampai di rumah, seperti biasa Kakak dan Adik menyambut saya di ambang pintu. Kebetulan saya membawa belanjaan cemilan yang selalu disambut girang oleh mereka berdua, tetapi kali ini tumben hanya Adik yang heboh. Wajah Kakak malah terlihat sedih. Wah, kesempatan untuk melanjutkan OBSERVASI TANPA INTEROGASI nih.

"Kakak kok mukanya kelihatan sedih?" tanya saya hati-hati.

Pertanyaan saya disambut. Dia menarik saya untuk mendekat.

"Kakak mau cerita tapi Mama jangan bilang siapa-siapa kecuali Abi," bisiknya.

Saya dalam hati agak heran campur geli, mengapa Kakak harus berbisik padahal hanya ada Adik di situ. Ada apa nih sampai harus dirahasiain?

Kakak melanjutkan ceritanya, "Tadi Kakak tuh sedih, Kakak udah bilang sama Mbak dan Adik jangan turun dulu pas aku mandi. Tapi mereka malah turun duluan. Aku tuh ngerasanya kaya aku (dianggap) ga ada."

Ooooh...anak sulungku yang sangat peka perasaannya. Saya harus MENUNJUKKAN EMPATI terlebih dulu nih.

"Oh, jadi Kakak sedih karena ditinggal sendiri ya?"

"Iya padahal aku tuh udah teriak 'kok pada turun' tapi Mbak ga denger."

"Hmm..mungkin Mbak lupa ya nungguin Kakak."

Percakapan kami terpotong karena Adik heboh membongkar belanjaan lalu Kakak pun ikut-ikutan ambil cemilan 😅.

Belum tuntas menggali perasaan Kakak, besok lanjut lagi deh kalau Kakak perasaannya sudah lebih enak. Sementara ini, semoga cemilan oleh-oleh dari Mama bisa menghibur sejenak.